Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Peringati HUT ke-9, Puan Hayati Gresik Napak Tilas dan Pelajari Sejarah Bupati Pertama di Makam Poesponegoro

Fajar Yuliyanto • Rabu, 3 Juni 2026 | 09:12 WIB
Puan Hayati Gresik ziarah dan belajar sejarah ke makam Bupati Pertama Gresik. (Dok/Radar Gresik)
Puan Hayati Gresik ziarah dan belajar sejarah ke makam Bupati Pertama Gresik. (Dok/Radar Gresik)

RADAR GRESIK – Perempuan Penghayat Kepercayaan (Puan Hayati) Indonesia Kabupaten Gresik memilih cara yang sarat akan makna budaya dalam memperingati hari ulang tahunnya yang ke-9.

Mengusung tema "Niti Lampah Leluhur", belasan anggota Puan Hayati menggelar ziarah sekaligus kegiatan belajar sejarah di kompleks Makam Kyai Tumenggung Poesponegoro, Bupati Pertama Gresik.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama secara khusyuk demi mengenang jasa dan perjuangan Kyai Tumenggung Poesponegoro. Usai berdoa, para peserta mendapatkan pemaparan sejarah secara mendalam dari perwakilan Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro mengenai rekam jejak kepemimpinan sang bupati.

Baca Juga: Akibat Cuaca Panas, Satu Jemaah Haji Asal Gresik Dilarikan ke RS An-Nur Arab Saudi

Tema "Niti Lampah Leluhur" yang diangkat kali ini memiliki esensi filosofis mendalam, yakni sebuah ajakan bagi generasi masa kini untuk selalu mengingat, menghormati, dan meneladani nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu.

Selain internal Puan Hayati, agenda ini juga dihadiri oleh perwakilan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), Forum Masyarakat Gresik Pecinta Keberagaman (Formagam), serta pihak keluarga besar yayasan makam.

Ketua Puan Hayati Kabupaten Gresik, Suparni, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan bagian dari komitmen nyata organisasinya dalam melestarikan cagar budaya dan sejarah lokal yang ada di Bumi Santri.

Baca Juga: Sambut Ribuan Jemaah Haul Habib Abu Bakar ke-71, Dinkes Gresik Siagakan 9 Posko Kesehatan dan 80 Nakes

"Salah satunya dengan cara mengenali langsung sejarah dan perjalanan Bupati Pertama Gresik, Kyai Tumenggung Poesponegoro. Harapannya, ketika berada di luar Gresik, kita bisa menceritakan keluhuran sejarah daerah ini kepada orang lain, termasuk mewariskannya kepada anak cucu kita,” tutur Suparni.

Suparni mengaku sangat tersentuh dengan suasana lingkungan makam yang sarat akan nilai historis dan spiritualitas. Melalui kegiatan ini, ia ingin menegaskan peran aktif kelompok penghayat kepercayaan dalam menginisiasi gerakan positif di tengah dinamika sosial.

“Suasana di sini sangat menyentuh. Mendoakan leluhur adalah kewajiban kita yang masih hidup. Kami juga ingin menunjukkan bahwa Puan Hayati mampu menyelenggarakan kegiatan kolektif yang membawa manfaat bagi masyarakat luas," ungkapnya.

Baca Juga: Sinergi Hulu Migas Jabanusa, Rajut Harmoni Lewat Ratusan Hewan Qurban dan Mudik Gratis

Dalam pemaparan materi sejarah, terungkap bahwa Kyai Tumenggung Poesponegoro lahir di Gresik pada tahun 1651 dengan nama kecil Bagus Lanang Poespodiwongso. Setelah melalui rekam jejak kepemimpinan yang panjang di wilayah pesisir, ia kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Bupati Gresik pertama dari tahun 1688 hingga 1696.

Perwakilan Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro, Raden Ngabehi Ahmad Rifai, menyambut hangat kunjungan edukatif ini. Menurutnya, ini menjadi momentum krusial untuk meluruskan dan mengenalkan kembali simpul sejarah Gresik ke ranah publik.

“Sebagai keturunan langsung, kami sangat mengapresiasi kedatangan Puan Hayati yang memiliki semangat tinggi untuk belajar sejarah. Pada masa kepemimpinan beliau dahulu, seorang pemimpin benar-benar hadir mengayomi seluruh rakyat tanpa memandang latar belakang golongan maupun keyakinan,” terang Rifai.

Baca Juga: Haul ke-71 Habib Abu Bakar Assegaf, 200 Personel Gabungan Siap Amankan Alun-Alun Gresik

Rifai menegaskan bahwa situs makam Kyai Tumenggung Poesponegoro selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang berniat mendalami historiografi Gresik.

“Faktanya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui asal-usul dan sejarah Bupati Pertama Gresik. Oleh karena itu, kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi publik untuk datang, belajar, dan menggelar kegiatan positif di sini,” tambahnya.

Apresiasi senada juga datang dari Ketua Forum Masyarakat Gresik Pecinta Keberagaman (Formagam), Djoko Pratomo. Ia menilai gerakan "Niti Lampah Leluhur" ini merupakan bentuk nyata dari preservasi kearifan lokal yang patut dicontoh.

Baca Juga: Tekan Kemiskinan dan Stunting, Pemkab Gresik Perluas Program Bunda Puspa ke 80 Desa

“Di era modernisasi yang masif seperti sekarang, kegiatan yang mendekatkan kembali generasi muda pada sejarah dan cagar budaya sangat penting agar akar identitas kita tidak hilang. Ini adalah warisan kolektif yang harus terus kita jaga bersama,” ujar Djoko.

Menutup momentum tersebut, Djoko menaruh harapan besar agar Puan Hayati terus konsisten mengambil peran dalam merawat rajutan sosial dan inklusivitas di Kabupaten Gresik.

“Semoga di usia yang ke-9 tahun ini, Puan Hayati tidak sekadar menjadi wadah komunitas, tetapi juga semakin progresif menghadirkan program yang bermanfaat bagi publik serta menjadi salah satu pilar penguat wajah keberagaman di Kabupaten Gresik,” pungkasnya. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
#HUT #gresik #leluhur #Tumenggung Pusponegoro #Budaya