Ekonomi & Bisnis Features Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kota Gresik Lifestyle Moncer Seru Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro Politika Sosial Sport & Health

Dibangun saat Penyebaran Islam, Masjid Jami’ Kini Jadi Jujukan Wisata

Hany Akasah • 2023-04-05 15:45:54
PELATIHAN: WBP Rutan kelas IIB Gresik mengasah keterampilan  bidang pengelasan untuk membuat kerajinan yang menggunakan bahan besi. (Ist/Radar Gresik)
PELATIHAN: WBP Rutan kelas IIB Gresik mengasah keterampilan bidang pengelasan untuk membuat kerajinan yang menggunakan bahan besi. (Ist/Radar Gresik)
GRESIK - Masjid Jami’ Gresik menjadi salah satu tempat wisata religi di Kabupaten Gresik.  Selain menjadi salah satu masjid tertua di Pulau Jawa, juga ada makam Habib Abu Bakar Bin Muhammad Umar Assegaf dan Habib Alwi Bin Muhammad Hasyim Assegaf. Bukan hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal,  setiap17 Dzulhijjah digelar haul Habib Abu Bakar yang pengunjungnya nyaris datang dari seluruh dunia.

Pada awalnya Masjid Jami’ Gresik dibangun oleh Nyai Ageng Pinatih di tanah lapang. Konstruksi masjid ini berbahan kayu. Masjid Jami Gresik sudah berdiri sejak tahun 1400-an Masehi atau di masa Syekh Maulana Malik Ibrahim. Masjid yang kini terlihat mempunyai dua menara itu merupakan masjid tertua baik di Gresik maupun di Pulau Jawa. Penyebutan tertua di Pulau Jawa itu benar adanya jika merunut dari awal sejarah penyebaran agama Islam yang dilakukan Wali Songo.

Baca Juga : Dukung Pemkab, DMI Bantu Kepengurusan IMB Masjid

Ketika masa pemerintahan Tumenggung Pusponegoro masjid ini terbakar. Pada tahun 1712 dibangun ulang menggunakan teknik konstruksi kolonial namun tidak menghilangkan unsur bangunan Nusantara. Hal ini dapat terlihat pada penggunaan Soko Guru, Soko Rowo dan bentuk atap. Bentuknya masih sederhana, karena ukurannya masih kecil dan beratap atau berpayon kayu.

Ketua Yayasan Makam Maulana Malik Ibrahim Taufiq Harris mengatakan, Pada awalnya masjid tersebut hanyalah sebuah musala kecil yang sering digunakan oleh umat Islam untuk beribadah. Namun, di saat pemerintahan Gresik dipimpin oleh Kanjeng Poesponegoro pada tahun 1600 Masehi, masjid dibangun megah secara bertahap.



“Masjid Jami merupakan salah satu ikon Kota Gresik dan merupakan masjid terbesar di masanya. Masjid ini selalu ramai dikunjungi masyarakat untuk menjalankan rutinitas ibadah salat sunah maupun salat fardu,” jelas Taufiq.

Meskipun umurnya sudah tua bahkan tertua, fungsi Masjid Jami Gresik sangat besar dalam penyebaran agama Islam dan dakwah. “Kalau hari libur biasanya pasti ziarah ke makan Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Syekh Maulana Ainul Yaqin, Raden Santri, Nyi Ageng Pinatih dan lain sebagainya,” kata Taufiq.

Baca Juga : Lewat DMI, Abdullah Farih Komitmen Istiqomah Kawal Masjid dan Musala

Di era saat ini, Masjid Jami’ juga masih menjadi pedoman warga untuk menentukan jadwal salat, Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri. “Kalau orang Gresik ditanya Lebarannya kapan?, jawabannya ikut Masjid Jami,” pungkas pria yang juga Direktur Pascasarjana Universitas Gresik tersebut. (nov/han) Editor : Hany Akasah
#berita #DMI Gresik #gresik #Ramadan #kota gresik #News #masjid jami'