Pada awalnya Masjid Jami’ Gresik dibangun oleh Nyai Ageng Pinatih di tanah lapang. Konstruksi masjid ini berbahan kayu. Masjid Jami Gresik sudah berdiri sejak tahun 1400-an Masehi atau di masa Syekh Maulana Malik Ibrahim. Masjid yang kini terlihat mempunyai dua menara itu merupakan masjid tertua baik di Gresik maupun di Pulau Jawa. Penyebutan tertua di Pulau Jawa itu benar adanya jika merunut dari awal sejarah penyebaran agama Islam yang dilakukan Wali Songo.
Baca Juga : Dukung Pemkab, DMI Bantu Kepengurusan IMB Masjid
Ketika masa pemerintahan Tumenggung Pusponegoro masjid ini terbakar. Pada tahun 1712 dibangun ulang menggunakan teknik konstruksi kolonial namun tidak menghilangkan unsur bangunan Nusantara. Hal ini dapat terlihat pada penggunaan Soko Guru, Soko Rowo dan bentuk atap. Bentuknya masih sederhana, karena ukurannya masih kecil dan beratap atau berpayon kayu.
Ketua Yayasan Makam Maulana Malik Ibrahim Taufiq Harris mengatakan, Pada awalnya masjid tersebut hanyalah sebuah musala kecil yang sering digunakan oleh umat Islam untuk beribadah. Namun, di saat pemerintahan Gresik dipimpin oleh Kanjeng Poesponegoro pada tahun 1600 Masehi, masjid dibangun megah secara bertahap.
“Masjid Jami merupakan salah satu ikon Kota Gresik dan merupakan masjid terbesar di masanya. Masjid ini selalu ramai dikunjungi masyarakat untuk menjalankan rutinitas ibadah salat sunah maupun salat fardu,” jelas Taufiq.
Meskipun umurnya sudah tua bahkan tertua, fungsi Masjid Jami Gresik sangat besar dalam penyebaran agama Islam dan dakwah. “Kalau hari libur biasanya pasti ziarah ke makan Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Syekh Maulana Ainul Yaqin, Raden Santri, Nyi Ageng Pinatih dan lain sebagainya,” kata Taufiq.
Baca Juga : Lewat DMI, Abdullah Farih Komitmen Istiqomah Kawal Masjid dan Musala
Di era saat ini, Masjid Jami’ juga masih menjadi pedoman warga untuk menentukan jadwal salat, Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri. “Kalau orang Gresik ditanya Lebarannya kapan?, jawabannya ikut Masjid Jami,” pungkas pria yang juga Direktur Pascasarjana Universitas Gresik tersebut. (nov/han) Editor : Hany Akasah