RADAR GRESIK - Oleh: Lia Istifhama - Anggota DPD/MPR RI
Syubbanul yaum, rijalul ghad : pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Ungkapan tersebut bukan sekadar kalimat motivasi, melainkan sebuah pesan bahwa kualitas masa depan bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana generasi mudanya dipersiapkan hari ini.
Karena itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah semestinya tidak berhenti pada seremoni. Maulid harus menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali bagaimana Rasulullah SAW membangun masyarakat, menghadapi konflik, memimpin umat, sekaligus menanamkan akhlak sebagai fondasi peradaban.
Jika generasi muda ingin dipersiapkan menjadi pemimpin bangsa, maka empat sifat Rasulullah SAW yaitu as-siddiq, al-amanah, at-tabligh, dan al-fathanah relevan dijadikan fondasi karakter kepemimpinan.
Siddiq: Kepemimpinan Dimulai dari Kejujuran
Siddiq berarti benar dan jujur. Dalam kepemimpinan, kejujuran bukan sekadar tidak berbohong. Lebih dari itu, kejujuran adalah keberanian untuk menyampaikan sesuatu sesuai kenyataan, sekalipun kebenaran tersebut tidak selalu menguntungkan diri sendiri.
Baca Juga: Lagi-Lagi Dapat Apresiasi, Senator Cantik dan Humble Lia Istifhama Raih Radar Jember Award
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang memiliki integritas bahkan sebelum menerima risalah kenabian. Gelar Al-Amin yang diberikan masyarakat Makkah menunjukkan bahwa kepercayaan publik dibangun melalui konsistensi perilaku, bukan pencitraan sesaat.
Di tengah era digital, nilai siddiq menjadi semakin penting. Generasi muda hidup dalam ruang informasi yang begitu cepat. Satu unggahan dapat menyebar dalam hitungan detik, sementara klarifikasi terkadang datang ketika informasi keliru sudah telanjur dipercaya.
Karena itu, menjadi generasi digital bukan hanya soal mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu bertanggung jawab atas apa yang dibagikan.
Cerdas bermedia berarti tahu kapan harus berbicara, apa yang harus disampaikan, dan kapan harus memilih diam.
Amanah: Kekuasaan Adalah Tanggung Jawab
Sifat kedua adalah amanah, yakni dapat dipercaya. Seorang pemimpin tidak boleh memandang jabatan sebagai fasilitas untuk memperoleh kekuasaan, melainkan sebagai tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks generasi muda, amanah dapat dimulai dari hal sederhana: bertanggung jawab terhadap tugas, menepati janji, menghargai kepercayaan orang lain, dan tidak menyalahgunakan posisi.
Sebab, kepemimpinan sesungguhnya tidak dimulai ketika seseorang duduk di kursi kekuasaan. Kepemimpinan dimulai ketika seseorang mampu dipercaya.
Jabatan mungkin diberikan oleh manusia, tetapi amanah harus dijaga oleh hati nurani.
Tabligh: Berani Menyampaikan Kebenaran
Tabligh berarti menyampaikan. Rasulullah SAW memiliki keberanian menyampaikan wahyu dan kebenaran meskipun menghadapi tekanan dan ancaman.
Dalam kehidupan kebangsaan, karakter ini dapat diterjemahkan menjadi keberanian menyampaikan gagasan, memperjuangkan kepentingan masyarakat, sekaligus menyuarakan kebenaran dengan cara yang santun. Namun, keberanian berbicara tidak identik dengan keberanian menghujat.
Di era media sosial, kita membutuhkan generasi yang berani menyampaikan kritik tanpa merendahkan, berbeda pendapat tanpa membenci, dan memperjuangkan kebenaran tanpa menyebarkan fitnah.
Kritik yang cerdas tidak membutuhkan kebencian untuk menjadi tajam.
Fathanah: Cerdas Menghadapi Perubahan Zaman
Karakter keempat adalah fathanah, yakni kecerdasan. Kecerdasan Rasulullah SAW tidak hanya tercermin dalam keluasan pengetahuan, tetapi juga dalam kemampuan membaca situasi, menyusun strategi, berkomunikasi, berdiplomasi, dan mengambil keputusan.
Baca Juga: Senator Lia Istifhama Bahas Ketahanan Pangan di Bangkalan
Peristiwa Perang Badar menjadi salah satu gambaran bagaimana strategi dan kecermatan menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi yang penuh keterbatasan. Konteksnya tentu berbeda dengan kehidupan hari ini. Generasi muda tidak sedang diminta untuk berperang. Namun, semangat strategisnya tetap relevan.
Hari ini, tantangan generasi muda adalah menghadapi disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, kompetisi global, perubahan dunia kerja, hingga derasnya arus informasi.
Maka, fathanah di era digital berarti mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan nalar. Mampu memanfaatkan media sosial tanpa menjadi korban algoritma. Mampu mengikuti tren tanpa kehilangan prinsip. Jangan sampai generasi kita memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi cara berpikirnya semakin dangkal.
Pemimpin Masa Depan Tidak Cukup Hanya Pintar
Keempat sifat tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak cukup dibangun dengan kecerdasan intelektual. Pemimpin membutuhkan kejujuran untuk dipercaya, amanah untuk bertanggung jawab, keberanian untuk menyampaikan kebenaran, dan kecerdasan untuk mengambil keputusan.
Karena itu, syubbanul yaum, rijalul ghad harus dimaknai sebagai panggilan untuk mempersiapkan generasi muda secara utuh. Kita tidak hanya membutuhkan anak muda yang berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter.
Tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu berbicara di depan kamera, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan ucapannya. Tidak hanya membutuhkan generasi yang populer, tetapi juga memiliki integritas.
Dan tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu memenangkan kompetisi, tetapi pemimpin yang mampu menjaga martabat manusia.
Baca Juga: Tidak Hanya Dekat Generasi Z, Senator Jatim Ning Lia Istifhama Akrab Pula dengan Gen Alpha
Maulid dan Refleksi Kebangsaan
Peringatan Maulid Nabi juga mengajarkan bahwa perjuangan membangun peradaban tidak dapat dipisahkan dari akhlak.
“Ketika Nabi menghadapi penindasan Quraisy, beliau tidak pernah mengedepankan kekerasan sebagai jalan utama. Bahkan Perang Badar, Uhud, hingga Khandaq merupakan bagian dari perjuangan mempertahankan umat dalam situasi yang dihadapi. Tawanan perang pun diperlakukan dengan penuh kemanusiaan. Inilah teladan besar bahwa perjuangan kebenaran harus diiringi akhlak mulia, bukan kebrutalan,” ujar saya.
Nilai tersebut sangat relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia hari ini. Di tengah perbedaan pilihan politik, latar belakang, organisasi, maupun pandangan sosial, kita membutuhkan budaya dialog, bukan saling meniadakan.
Kita membutuhkan keberanian untuk berbeda, tetapi tetap mampu menjaga persaudaraan.
Sebab, membangun Indonesia bukan pekerjaan satu kelompok. Ia adalah kerja bersama seluruh anak bangsa.
Pada akhirnya, Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang kelahiran seorang manusia mulia. Lebih dari itu, ia adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:
Generasi seperti apa yang sedang kita siapkan untuk Indonesia?
Jika pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan, maka tugas kita bukan sekadar memberikan mereka panggung.
Tugas kita adalah membekali mereka dengan ilmu, akhlak, keberanian, dan keteladanan.
Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang kelak memimpin, tetapi juga karakter seperti apa yang melekat pada pemimpinnya.
Dan dari keteladanan Rasulullah SAW, kita belajar bahwa kepemimpinan terbaik bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu ia berikan kepada sesama. (*)
Sumber : Radar Gresik