Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Dari Daun Kering Jadi Cuan! Kisah Achmad Taufik, Warga Wringinanom Sukses Olah Limbah Organik Jadi Pupuk Kompos Bernilai Jual Tinggi

Fajar Yuliyanto • Minggu, 9 November 2025 | 21:00 WIB
MENGOLAH : Warga Desa Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik saat mengolah kompos dari daun kering dan limbah dapur.
MENGOLAH : Warga Desa Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik saat mengolah kompos dari daun kering dan limbah dapur.

RADAR GRESIK – Di tengah isu penumpukan sampah, Achmad Taufik (37), warga Desa Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, justru melihat tumpukan sampah daun kering dan sisa dapur sebagai ladang rezeki.

Berbekal ilmu dari tempat kerjanya dulu di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R), Taufik sukses mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi yang laris manis.

Taufik, yang memulai usaha rumahan ini lima tahun lalu setelah meninggalkan pekerjaannya di TPS3R, kini terlihat sabar mengaduk tumpukan material yang telah difermentasi di halaman rumahnya. Baginya, limbah organik adalah peluang, bukan masalah.

“Kalau orang lain pusing sama sampah, saya justru senang melihat daun kering dan kulit pisang. Itu bukan sampah, itu duit,” katanya lugas.

Dengan memanfaatkan halaman rumah sebagai lokasi pengomposan, Taufik mampu mengolah hingga dua ton sampah organik setiap kali produksi. Hasilnya, kompos berwarna gelap dan bertekstur halus dapat dipanen setiap dua hingga tiga minggu sekali.

“Prosesnya sederhana tapi harus telaten. Kalau benar, hasilnya berkualitas dan banyak yang cari,” imbuhnya.

Dalam pemasarannya, Taufik memilih fokus memproduksi dan menjual kompos dalam kemasan besar seberat 20 kilogram.

Hal ini dikarenakan pembeli, yang mayoritas adalah kalangan penghobi dan institusi, lebih menyukai paket besar yang dinilai lebih ekonomis.

Pembeli kompos racikan Taufik tidak hanya terbatas di Wringinanom. Pasarannya sudah meluas ke berbagai kecamatan, mulai dari Benjeng, Balongpanggang, hingga Gresik kota, termasuk di kalangan PKK, sekolah adiwiyata, dan para penghobi tanaman.

"Lumayan buat tambahan. Sebulannya antara Rp 800 ribu hingga Rp 1,3 juta,” terang Taufik mengenai omzet tambahan yang ia dapatkan.

Penjualan kompos dilakukan Taufik secara langsung maupun melalui mitra distribusi, tanpa endorsement mahal, melainkan mengandalkan kualitas dan kepercayaan pelanggan. Baginya, karung-karung pupuk itu adalah simbol ketekunan dan kepedulian pada lingkungan.

“Setiap karung yang terjual bukan cuma menambah uang di kantong, tapi juga mengurangi beban TPA. Kita cuma perlu melakukan aksi nyata,” pungkas Taufik, menanam harapan baru dari sampah organik. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
#PUPUK #kompos #Limbah #gresik #wringinanom