RADAR GRESIK - Tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, kembali digelar dengan meriah. Sebanyak 25 tumpeng diarak sejauh satu kilometer dari Balai Desa Suci menuju Masjid Mambaut Thoat, dekat Sendang Sono peninggalan Sunan Giri, Senin (18/8) malam.
Acara budaya ini menarik antusiasme tinggi dari warga yang berbondong-bondong merekam momen tahunan tersebut.
Camat Manyar, Hendriawan Susilo, mengapresiasi kemeriahan acara tersebut dan menilai tradisi Rebowekasan memiliki nilai historis penting yang berkaitan erat dengan perkembangan Islam di wilayah Gresik. Ia menyampaikan proses pengajuan Rebo Wekasan agar diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tengah berjalan. Pengakuan ini diharapkan dapat memperkuat identitas budaya Desa Suci sekaligus melindungi tradisi dari klaim daerah lain.
“Kami berharap tradisi ini terus dilestarikan dan dapat memberikan dampak positif pada aspek budaya serta ekonomi melalui pemberdayaan UMKM lokal,” ujar Hendriawan.
Sementara itu anggota DPRD Gresik, Khoirul Huda, menggarisbawahi pentingnya keterlibatan generasi muda dalam melestarikan tradisi leluhur ini.
"Saya berharap anak-anak muda desa memahami nilai budaya ini dan bisa melanjutkannya," kata Huda, seraya mengapresiasi Kepala Desa Ahmad Rizal yang telah menginisiasi kirab tumpeng.
Menurut politisi PPP itu, Rebo Wekasan tak hanya memperkuat nilai budaya dan spiritual, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Selama tiga hari perayaan, puluhan UMKM memadati sepanjang Jalan Kyai Haji Syafi’i, menjajakan kuliner khas, kerajinan tangan, dan produk lokal lainnya.
"Semoga kegiatan ini semakin mendongkrak UMKM lokal dan memberikan kesejahteraan bagi warga Desa Suci," harapnya.
Kepala Desa Suci, Ahmad Rizal, menjelaskan bahwa perayaan Rebo Wekasan kini dikemas dengan beragam acara menarik, tidak hanya berfokus pada kegiatan keagamaan.
"Selain doa bersama, ada kirab tumpeng agung, selamatan desa, shalawat, hingga gebyar UMKM dan pasar malam. Semua kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat nilai kebersamaan," ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Camat Manyar, Hendriawan Susilo, yang melihat tradisi ini sebagai warisan budaya bernilai historis tinggi. "Kita tidak ingin budaya ini diambil alih daerah lain," tegas Hendriawan.
Saat ini, proses untuk menjadikan Rebo Wekasan Desa Suci sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sedang berjalan.
Ia berharap tradisi ini bisa menyusul dua tradisi lain di Kecamatan Manyar yang telah lebih dulu ditetapkan sebagai WBTB, yaitu makam Siti Fatimah binti Maimun dan tradisi kolak ayam sanggring.
"Kegiatan seperti ini tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan UMKM," pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah