RADAR GRESIK - Seperti halnya anak-anak di Gresik suka bermain. Di Gresik banyak ditemukan telaga maupun sungai yang lumayan besar. Karena banyak dijumpai sungai dan telaga, maka media ini dimanfaatkan untuk bermain. Salah satunya permain- an Bluron. Permainan bluron ini muncul secara spontan ketika sekelompok anak berkumpul di tepi telaga.
Empat hingga lima anak asyik berebut mangga yang dilempar jauh ke tengah telaga. Siapa cepat dia dapat, artinya barang siapa yang dapat berenang cepat ke tengah telaga dan menemukan mangga muda yang di lempar dialah pemenangnya. Tentunya pemenang akan merasakan nikmatnya buah mangga hasil tangkapan.
Bluron merupakan salah satu permainan tradisional yang biasa dimainkan anak-anak Gresik yang bertempat tinggal dekat di daerah telaga. Misalnya di telaga pegat di kawasan Giri, Kecamatan Kebomas.
Telaga yang digunakan haruslah aman dari bahaya serta memiliki kedalaman yang tidak terlalu dalam. Anak-anak biasa bermain Bluron saat sore hari. Sebab, saat itu merupakan waktu yang cocok untuk bermain dalam air.
Alasannya, suhu tidaklah terlalu dingin dan tidak pula panas. Di sore hari itu juga, kita dapat menyegarkan tubuh setelah seharian beraktivitas di sekolah. Memang, tentramnya suasana sore hari sangat cocok digunakan untuk bermain bersama.
Sebelum bermain, para pemain harus menyiapkan beberapa buah terlebih dahulu. Biasanya para pemain menggunakan mangga sebagai buah yang nantinya menjadi incaran mereka untuk dilempar ke tengah telaga.
Biasanya mangga banyak dijumpai di tepi telaga. Selain itu, rasa yang enak dan khas dari mangga menjadikan alasan mereka untuk menggunakannya sebagai buah incaran dalam Bluron.
Selain itu, kita juga dapat menggunakan buah selain mangga sebagai buah incarannya, dengan satu syarat yaitu buah tersebut dapat mengapung di atas air. Karena, jika buahnya tenggelam ke dasar telaga, pasti sangatlah susah untuk mencari apalagi jika telaganya cukup dalam.
Setelah mendapatkan buahnya, sekarang waktu bermain telah tiba. Dari beberapa anak yang bermain, salah satu pemain harus melemparkan buah yang telah didapat tadi ke tengah-tengah telaga.
Pemain yang melempar buah tadi juga boleh ikut bermain setelah melempar buah ke telaga. Setelah buah terlempar, mulailah anak-anak mengambil start lalu berhitung.
Satu, dua, tiga berlarilah mereka sekencang angin topan menuju tepi telaga. Sesampainya di tepi, meloncatlah mereka ke dalam telaga, dan berenang menggapai buah mangga yang terapung di tepian telaga.
Setelah masuk ke dalam segarnya air telaga, anak-anak berenang secepat-cepatnya menuju titik mangga tersebut berada.
Terlihat berbagai upaya mereka lakukan dengan semangat yang membara, demi merasakan nikmatnya mangga yang akan didapat nanti. Saat mangga telah didapat oleh salah satu anak, maka dialah pemenangnya dan berhak memakan mangga muda.
Mereka yang kalah, biasanya mendapat hukuman berupa perintah arahan dari si pemenang. Misalnya menggendongnya atau mengadu kecepatan mereka yang kalah untuk berenang menuju tepian telaga bahkan naik pohon mangga. dan tidak boleh memberikan perintah yang aneh dan membahayakan.
Untuk selanjutnya, si pemenang juga berhak ikut lagi dalam Bluron babak selanjutnya.
Permainan tersebut dapat diulang-ulang kembali hingga semua mangga muda habis atau bisa saja diulang sesuai dengan jumlah pemainnya, misalnya ada enam pemain maka ada enam permainan dan sisa 'mangga muda tadi dinikmati bersama.
Menurut Mustakim, akademisi dan pemerhati sejarah di Kabupaten Gresik menyampaikan filosofi dan manfaat dari dolanan Bluron yaitu di antaranya mengenai kebersamaan dalam persaingan, kejujuran bermain, dan menghargai kesuksesan orang lain.
Ditambahkannya pula, bahwa Bluron juga memiliki berbagai pesan dan pelajaran berharga lainnya yang Sesuai dengan kata pepatah, Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang- senang kemudian.
"Dari pepatah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa jika ingin sukses maka kita harus bekerja keras dahulu disertai niat dan doa yang tulus," kata Mustakim.
Sebagaimana dalam filosofi dolanan Bluron, jika ingin menikmati enaknya mangga muda maka harus bersusah payah berenang hingga ke tengah telaga.
"Apabila telah mendapatkan mangga muda, maka itulah kesuksesan, lalu kita tinggal menikmati saja mangga muda tersebut. Sesungguhnya dibalik kesulitan pasti ada kemudahan." Pungkas Mustakim (Sya/Han)
Editor : Hany Akasah