Sebelum mendirikan pesantren Giri Kedaton, Sunan Giri usai menimba ilmu di Ampel Denta melanjutkan belajar ke Pasai sebelum akhirnya ke Mekkah. Di Pasai Sunan Giri bertemu ayahnya Maulana Ishaq.
"Oleh ayahnya Sunan Giri dibekali segenggam tanah. Dan diminta mencari lokasi yang memiliki tanah yang sama," ujar Muchtar Juru Pelihara Situs Giri Kedaton.
Baca Juga : Punya Banyak Karomah, Habib Abu Bakar Assegaf Pemimpin Wali se-Dunia
Kemudian, Sunan Giri pulang ke Gresik untuk mencari lokasi yang memiliki tanah sama dengan pesan ayahnya. Awalnya Sunan Giri sempat ke Gunung Petukangan yang kini merupakan makam Putri Cempo. "Namun setelah beberapa bulan disana Sunan Giri tidak menemukan tanda bahwa lokasi tersebut cocok," ungkapnya.
Sunan Giri kemudian melanjutkan pencariannya di Gunung Batang yang berlokasi di Gulomantung, Kebomas. Sunan Giri yang datang dikawal dua orang prajurit Samudera Pasai sempat melakukan tapa di atas Gunung Batang selama 41 hari.
"Dan tepat dimalam ke 41 bertapa, Sunan Giri mendapatkan isyarah seperti ada cahaya yang turun dari langit dan jatuh di Gunung Giri ini," terangnya.
Selanjutnya, Sunan Giri turun dari Gunung Batang untuk mencari lokasi sesuai jejak isyarah yang ia dapatkan. Sesampainya di lokasi, Sunan Giri kemudian mendirikan pesantren di wilayah ini.
Baca Juga : Misteri Putri Cempo, Dari Negeri Campa Demi Islamisasi Majapahit
"Banyak santri dari penjuru Nusantara yang datang untuk menimba ilmu di pesantren Giri Kedaton ini," tandasnya.
Berdirinya, pesantren Giri Kedaton untuk menyebarkan agama Islam sempat mendapat tekanan dari Kerajaan Majapahit yang saat itu memiliki agama Hindu-Buddha. Namun, Sunan Giri berhasil melewatinya. "Saat Majapahit mulai melemah, Giri Kedaton kemudian berkembang menjadi Kerajaan Giri Kedaton dengan raja pertama yakni Sunan Giri sendiri dengan gelar Prabu Satmata," imbuhnya. (rof) Editor : Hany Akasah