Setiap balita yang datang dilakukan pemeriksaan fisik dari kepala hingga kaki. Bahkan petugas juga mengecek organ dalam untuk mengetahui apa memiliki penyakit yang turut menyebabkan stunting.
" Usai diperiksa kami berikan makanan tambahan, susu formula, susu gain yang khusus dibuat dan diolah untuk menunjang tinggi badan dan berat badan, multivitamin, dan biskuit," tutur dr. Rifni Arneswari Fardianingtyas.
Dalam pelaksanan sebelumnya dilakukan pemeriksaan dari masing-masing posyandu ataupun kunjungan rumah, dari sana ditindaklanjuti dan terdata sebanyak sebelas balita terindikasi stunting dan lima yang terindikasi kurang gizi. "Kedepannya akan kami pantau hingga tiga bulan, melalui pemeriksaan rutin setiap bulan," imbuhnya.
Kepala Desa Yosowilangun H. Abdur Rosyid mengatakan, desa memiliki peran penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup balita dan warganya. "Pemdes Yosowilangun memiliki perhatian khusus terhadap stunting. Dimana kami berusaha mencegah dengan memberikan perhatian kepada balita yang terindikasi stunting dan gizi buruk," tutur Abdur Rosyid.
Pihaknya juga melakukan pantauan kesehatan ibu dan anaknya di Desa Yosowilangun. Semua harus bekerjasama agar kematian bayi, kematian ibu dapat dicegah. “Berikanlah anak-anak kita atau bayi dengan makanan yang bergizi agar stunting tidak terjadi,” tambahnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik dr. Mukhibatul Khusnah, mengapresiasi langkah Pemdes Yosowilangun yang memberikan suplemen supaya tidak terjadi stunting di desanya. “Di Kabupaten Gresik, kasus stunting berdasarkan EPPGBM Per Juni tahun 2022 jumlah balita ditimbang dan dilakukan pemantauan status gizi sebanyak 70.451 balita atau 67,97 persen dibanding jumlah balita seluruhnya, Prevalensi Stunting sebesar 10,52 persen tahun 2021 sebesar 10,9 persen," terangnya.
Hasil monev dan pelacakan stunting di lapangan ditemukan beberapa hal penyebab diantaranya pola asuh dan pola makan, pemberian ASI eksklusif kurang berkualitas, riwayat ibu hamil KEK dan Bumil Risti (Risiko Tinggi), berat badan lahir rendah, sosial ekonomi dan kesehatan lingkungan kurang memadahi," ungkapnya. (*/han) Editor : Hany Akasah