NEW YORK – Industri hijau tidak cukup hanya bicara soal menekan emisi. Ada persoalan lain yang tak kalah penting yakni bagaimana teknologi itu dijalankan, siapa yang mengoperasikan dan seberapa besar manfaatnya sampai ke masyarakat. Perspektif tersebut dibawa PT Petrokimia Gresik (Persero) ke New York, Amerika Serikat.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah inovasi GladiAgro Next-Gen Soil Revival. Inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab persoalan kesehatan tanah dan sebelumnya meraih penghargaan tertinggi dalam SDGs Innovation Accelerator for Young Professionals 2026.
Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob menghadiri 2026 UN Private Sector Forum di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, pada Minggu (20/9) waktu setempat atau Senin (21/9) waktu Indonesia.
Forum yang bersifat khusus undangan itu mempertemukan sekitar 150 pemimpin senior dari dunia usaha, pemerintah, dan PBB. Pembahasannya berfokus pada percepatan transisi menuju energi yang bersih, adil, dan aman.
Forum tersebut diselenggarakan UN Global Compact yang dipimpin Sanda Ojiambo, Assistant Secretary-General PBB sekaligus CEO dan Executive Director UN Global Compact. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres turut hadir.
Isu yang dibahas cukup lebar. Mulai investasi, infrastruktur, kebijakan, hingga kolaborasi pemerintah dan dunia usaha untuk mempercepat implementasi energi bersih.
Sehari berikutnya, Daconi kembali tampil dalam forum Global Talent for Sustainable Development di KJRI New York. Forum pada Senin (21/9) waktu setempat atau Selasa (22/9) waktu Indonesia tersebut mempertemukan diaspora Indonesia, mahasiswa, pemimpin bisnis, praktisi keberlanjutan, dan inovator.
Kali ini isu yang dibawa lebih dekat dengan persoalan sumber daya manusia. Sebab, transisi menuju ekonomi hijau tidak hanya mengubah teknologi. Tetapi juga mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja.
“Transformasi menuju ekonomi hijau pada dasarnya juga merupakan transformasi tenaga kerja. Investasi pada teknologi harus berjalan bersama dengan investasi pada manusia. Teknologi hijau hanya akan memberikan manfaat apabila didukung talenta yang mampu merancang, mengoperasikan, dan mengembangkannya,” ujar Daconi.
Pesannya jelas. Investasi teknologi tanpa kesiapan manusia berpotensi menghasilkan kesenjangan. Industri membutuhkan tenaga kerja yang tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami perubahan proses bisnis yang menyertainya.
Engineer, misalnya, ke depan tidak cukup hanya berbicara soal kapasitas dan keandalan produksi. Pemahaman mengenai efisiensi energi, energi terbarukan, manajemen karbon, dan teknologi rendah karbon ikut menjadi kebutuhan.
Hal serupa terjadi pada profesi lain. Kebutuhan talenta hijau semakin melebar, mulai teknik, lingkungan, pertanian, digital, data, keuangan, hingga bisnis.
Daconi juga mendorong talenta Indonesia yang saat ini belajar dan bekerja di luar negeri untuk membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh.
“Kami berharap talenta-talenta terbaik Indonesia yang saat ini belajar maupun berkarya di luar negeri dapat membawa kembali pengetahuan dan pengalamannya untuk berkontribusi bagi Indonesia. Transformasi ke depan membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi, perspektif global, dan kemampuan menjawab perubahan industri,” tambahnya.
Bagi Petrokimia Gresik, isu tersebut bukan sekadar wacana. Perusahaan berada di dua sisi transformasi sekaligus. Di sisi hulu, Petrokimia Gresik merupakan industri pupuk dan kimia yang terus mendorong efisiensi serta menurunkan intensitas karbon. Sementara di sisi hilir, produk dan inovasinya bersentuhan langsung dengan petani, kesehatan tanah, dan produktivitas pertanian. Salah satu contohnya GladiAgro.
Data pengujian Petrokimia Gresik terhadap 40.282 sampel tanah di 27 provinsi sejak 2016 menunjukkan 91,9 persen sampel memiliki kandungan karbon organik yang rendah.
Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan penting dalam menjaga produktivitas lahan. Sebab, tanah bukan sekadar media tempat tanaman tumbuh. Kualitas tanah berkaitan dengan kemampuan lahan menopang produktivitas pertanian dalam jangka panjang.
GladiAgro dikembangkan untuk menjawab persoalan tersebut. Dalam implementasinya, inovasi itu memanfaatkan Petro Gladiator, dekomposer berbasis mikroba unggul untuk mempercepat proses dekomposisi limbah pertanian dan bahan organik menjadi nutrisi organik.
Nutrisi tersebut kemudian dikembalikan ke lahan. Tujuannya meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki struktur tanah, sekaligus mendukung pemulihan kesehatan tanah.
Dengan pendekatan tersebut, persoalan industri dan pertanian ditempatkan dalam satu rantai keberlanjutan. Limbah organik tidak berhenti sebagai residu. Material tersebut dapat diproses kembali menjadi bagian dari sistem produksi pertanian.
“Transformasi hijau kami tidak berhenti di gerbang pabrik, tetapi berlanjut sampai ke lahan pertanian. Di industri, kami harus membuat proses produksi semakin efisien dan rendah karbon. Di sektor pertanian, kami juga harus membantu petani menjaga kesehatan tanah, menggunakan input secara lebih tepat, dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan,” jelasnya.
Agenda berikutnya adalah dekarbonisasi industri. Petrokimia Gresik memiliki roadmap menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. Untuk target jangka pendek 2030, perusahaan menargetkan penurunan emisi sebesar 30 persen dibandingkan skenario Business as Usual (BAU) sebesar 3,46 juta ton CO₂e.
Sejumlah strategi disiapkan. Mulai efisiensi energi dan utilitas, penggunaan sumber energi yang lebih bersih, pemanfaatan energi terbarukan dan CO₂, hingga pengembangan teknologi rendah karbon.
Salah satunya rencana pengembangan green hydrogen untuk mendukung produksi hybrid green ammonia berkapasitas 250 MTPD. Pengembangan tersebut tengah dikaji Petrokimia Gresik bersama Pupuk Indonesia.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa transformasi industri hijau membutuhkan investasi jangka panjang. Tidak hanya investasi pada peralatan dan teknologi, tetapi juga pada kompetensi manusia yang menjalankannya.
“Engineer tetap engineer, agronom tetap agronom, dan akuntan tetap akuntan. Tetapi teknologi yang mereka gunakan, kompetensi yang mereka butuhkan, dan ukuran keberhasilan pekerjaannya akan berubah. Karena itu, penguatan talenta perlu dilakukan melalui reskilling, upskilling, pengalaman industri, serta kolaborasi lintas disiplin,” terangnya.
Karena itu, industri dituntut mengambil peran lebih besar dalam membentuk talenta masa depan. Pengembangan kompetensi tidak bisa hanya diserahkan kepada lembaga pendidikan. Pengalaman industri, kebutuhan teknologi, dan perubahan dunia kerja harus menjadi bagian dari proses tersebut.
Kolaborasi dengan pemerintah dan perguruan tinggi juga menjadi penting. Termasuk membuka ruang bagi talenta Indonesia di luar negeri untuk membawa pulang pengetahuan, pengalaman, dan jejaring global.
“Talenta hijau Indonesia perlu disiapkan dari sekarang karena transformasi industri hijau tidak menunggu kesiapan kita. Kolaborasi antara industri, pemerintah, perguruan tinggi, serta talenta Indonesia di dalam maupun luar negeri akan menjadi fondasi penting agar transformasi ini tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, dan membuka peluang bagi generasi mendatang,” pungkas Daconi.
Editor : Cak Fir