Manyar — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk menegaskan kembali kiprahnya sebagai bagian dari perjalanan pembangunan nasional. Dari kawasan pertambangan di pegunungan Papua hingga fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral di Gresik, Jawa Timur, PTFI memperingati kemerdekaan dengan semangat One Freeport: Dari Timur Indonesia, Kita Bangkit Bersama.
Semangat tersebut tercermin melalui pelaksanaan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih secara serentak di enam lokasi kerja PTFI yang tersebar di Papua Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Presiden Direktur PTFI Tony Wenas bertindak sebagai Inspektur Upacara di lapangan sepak bola Tembagapura, Kabupaten Mimika. Upacara diikuti jajaran manajemen dan karyawan dari Kuala Kencana, Kantor Perwakilan PTFI di Nabire, Smelter PTFI dan PT Smelting di Gresik, serta kantor PTFI di Jakarta.
Pelaksanaan serentak dari wilayah hulu hingga hilir tersebut memiliki makna strategis. Ia bukan semata-mata menjadi seremoni peringatan kemerdekaan, melainkan merepresentasikan kesatuan ekosistem industri PTFI sekaligus kontribusinya terhadap pembangunan Indonesia. Tema nasional “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur” diterjemahkan PTFI melalui subtema “One Freeport: Dari Timur Indonesia, Kita Bangkit Bersama.”
Bagi perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia sejak 1973 tersebut, kontribusi terhadap negeri merupakan bagian integral dari keberadaan perusahaan. Selama lebih dari lima dekade, kegiatan PTFI berkembang dari eksplorasi dan pertambangan di Papua hingga membangun kapasitas pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri.
Kehadiran Smelter PTFI di Gresik menjadi salah satu tonggak penting dalam transformasi tersebut. Pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian memperkuat agenda hilirisasi mineral nasional, sekaligus menunjukkan bahwa nilai tambah sumber daya alam Indonesia semakin diarahkan untuk diciptakan di dalam negeri.
Dari perspektif pembangunan ekonomi, aktivitas tersebut memiliki efek berantai terhadap penciptaan nilai, penerimaan negara, penyerapan tenaga kerja, pengembangan industri pendukung, serta pertumbuhan ekonomi di wilayah operasional. Dengan demikian, keberadaan PTFI tidak hanya dapat dipandang dari perspektif produksi komoditas mineral, tetapi juga sebagai bagian dari rantai nilai strategis perekonomian nasional.
Memasuki momentum kemerdekaan tahun ini, kontribusi tersebut berlangsung bersamaan dengan proses pemulihan operasi tambang bawah tanah PTFI. Tony Wenas menegaskan bahwa fase pemulihan menjadi bagian dari perjalanan perusahaan untuk kembali memperkuat kapasitas produksi sekaligus mempertahankan kontribusi terhadap Indonesia.
“Freeport Indonesia harus mampu bangkit lebih kuat. Dengan semangat kebersamaan, ketangguhan, dan komitmen yang tidak pernah surut terhadap keselamatan, saya yakin kita akan mampu melewati masa ini dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik bagi perusahaan, para pekerja, masyarakat, pemangku kepentingan, bagi bangsa dan negara,” kata Tony.
Kerja keras tersebut mulai menunjukkan perkembangan positif. PTFI memproyeksikan kapasitas produksi dapat mencapai sekitar 65 persen pada akhir semester kedua 2026, dengan target produksi sekitar 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas. Kapasitas tersebut diharapkan meningkat menjadi sekitar 75 persen pada pertengahan 2027 dan secara bertahap mendekati kapasitas produksi penuh pada akhir 2027.
Pemulihan kapasitas produksi memiliki arti lebih luas daripada sekadar indikator operasional perusahaan. Semakin tinggi kapasitas produksi, semakin besar pula potensi kontribusi ekonomi yang dapat dihasilkan PTFI bagi negara dan daerah. Sepanjang 2025, PTFI mencatat kontribusi kepada negara sebesar Rp75 triliun, termasuk sekitar Rp13 triliun yang menjadi bagian pemerintah Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, dan kabupaten lainnya di Papua Tengah.
“Kontribusi tersebut mencerminkan komitmen kita yang tidak pernah surut untuk memberikan manfaat nyata bagi negara dan masyarakat, meskipun kita menghadapi berbagai tantangan. Dan saat nantinya kita mencapai kapasitas produksi 100 persen, maka kontribusi PTFI bagi negara akan mencapai lebih dari 100 triliun per tahun,” kata Tony.
Besarnya kontribusi tersebut menempatkan keberlanjutan operasi PTFI dalam konteks yang lebih luas. Aktivitas pertambangan tidak hanya berkaitan dengan produksi mineral, tetapi juga dengan penerimaan negara, pembangunan daerah, keberlangsungan ekonomi masyarakat, serta keberlanjutan rantai pasok industri nasional.
Komitmen membangun negeri juga ditopang oleh keberagaman sumber daya manusia PTFI. Dengan lebih dari 30.000 karyawan yang berasal dari berbagai daerah, suku, agama, dan budaya di Indonesia, PTFI menjadi representasi miniatur Indonesia dalam lingkungan kerja. Keragaman tersebut sekaligus menjadi modal sosial untuk membangun kolaborasi dalam menjalankan operasi yang kompleks dan strategis.
“Keberagaman ini adalah kekuatan kita. Dengan berbagai suku bangsa dari Sabang sampai Merauke, dan dari Miangas sampai Rote, walau diuji berkali-kali, atas pertolongan Tuhan, kita tidak tercerai berai, bahkan semakin erat bersatu, semakin kokoh sebagai satu keluarga besar, One Freeport,” katanya.
Semangat persatuan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan PTFI sejak awal operasinya. Sejak 1973, perusahaan tidak pernah absen menyelenggarakan upacara pengibaran Bendera Merah Putih. Memasuki tahun ke-53, tradisi tersebut menjadi simbol kesinambungan hubungan PTFI dengan Indonesia sekaligus penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.
Di sisi lain, perjalanan PTFI juga menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya alam membutuhkan perspektif jangka panjang. Investasi pada infrastruktur, teknologi, sumber daya manusia, hilirisasi, keselamatan kerja, serta pengembangan masyarakat menjadi elemen yang saling berkaitan dalam membangun ekosistem pertambangan yang berkelanjutan.
Seluruh proses tersebut berlandaskan nilai SINCERE, yakni Safety, Integrity, Commitment, Respect, dan Excellence. Nilai tersebut menjadi fondasi PTFI dalam menjalankan operasi sekaligus menjaga hubungan dengan pekerja, masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Di tengah semua ujian yang kita hadapi saat ini, dari Tembagapura saya sampaikan Dari Timur Indonesia, dari tanah Papua untuk Indonesia, Freeport Bangkit,” tutup Tony.
Editor : Cak Fir