Ditopang Industri, Kinerja Pelabuhan Gresik Tetap Ekspansif di Tengah Dinamika Global

Cak Fir • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 11:15 WIB
Menggeliat : Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Gresik.
Menggeliat : Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Gresik.

Kota – Pelabuhan Gresik terus memperkuat perannya sebagai salah satu simpul penting dalam rantai pasok industri Jawa Timur. Di tengah dinamika perdagangan internasional dan ketidakpastian ekonomi global, aktivitas bongkar muat tetap menunjukkan fundamental yang positif. Hingga semester I 2026, total arus barang yang ditangani PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) Branch Gresik mencapai 2.288.524 ton/m³.

Kinerja tersebut menjadi indikator penting bagi kawasan dengan karakter industri seperti Gresik. Aktivitas pelabuhan tidak semata menggambarkan pergerakan barang dari dan menuju dermaga, tetapi memiliki keterkaitan erat dengan mobilitas bahan baku, produksi industri, distribusi hingga aktivitas perdagangan.

Branch Manager PT Pelindo Multi Terminal Branch Gresik, Sutopo, mengatakan pertumbuhan yang terjadi sepanjang enam bulan pertama 2026 memperlihatkan bahwa aktivitas logistik di Pelabuhan Gresik tetap memiliki prospek kuat.

“Secara keseluruhan, arus barang hingga Juni 2026 mencapai 2,28 juta ton/m³. Sejumlah komoditas menunjukkan pertumbuhan cukup kuat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Sutopo.

Salah satu penopang pertumbuhan berasal dari general dan bag cargo. Hingga Juni 2026, kelompok komoditas tersebut membukukan volume 1.255.138 ton/m³ atau meningkat 10,40 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama 2025.

Akselerasi lebih tinggi terjadi pada curah kering. Volume komoditas ini mencapai 599.354 ton atau melonjak 48,72 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif terhadap pergerakan komoditas industri yang memanfaatkan Pelabuhan Gresik sebagai salah satu mata rantai logistik.

“Pertumbuhan arus barang ini menjadi sinyal positif bagi kami. Kebutuhan terhadap layanan kepelabuhanan tetap berkembang dan harus direspons dengan peningkatan produktivitas, kesiapan fasilitas serta kualitas pelayanan kepada pengguna jasa,” kata Sutopo.

Kinerja curah cair juga bergerak positif. Hingga Juni 2026, volumenya mencapai 434.032 ton atau tumbuh 11,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, realisasinya masih sekitar 4,87 persen di bawah target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika perdagangan global. Sepanjang Januari hingga Juni 2026 terjadi penurunan permintaan ekspor 2-Ethylhexanol (2EH) dan Iso Butyl Alcohol (IBA) ke China dari salah satu pengguna jasa di Gresik, PT Petro Oxo Nusantara.

Peningkatan biaya logistik global dan ketidakpastian geopolitik ikut memberikan tekanan terhadap perdagangan komoditas tersebut. Di sisi lain, pelemahan permintaan serta tingginya persediaan di negara tujuan turut memengaruhi kebutuhan impor.

Namun, struktur komoditas yang beragam membuat Pelabuhan Gresik memiliki bantalan terhadap volatilitas pada salah satu segmen. Ketika curah cair menghadapi tekanan terhadap target, pertumbuhan general dan bag cargo serta curah kering mampu menjaga performa agregat tetap positif.

“Kondisi perdagangan global tentu berpengaruh terhadap arus komoditas tertentu. Namun, kami melihat fundamental bisnis di Gresik tetap prospektif karena ditopang basis industri yang kuat dan jenis komoditas yang cukup beragam,” tutur Sutopo.

Optimisme tersebut juga tercermin dari indikator produktivitas. Pada curah cair, produktivitas bongkar muat meningkat dari 105,71 ton per gang per hour (T/G/H) pada semester I 2025 menjadi 115,51 T/G/H pada periode yang sama tahun ini.

Produktivitas curah kering juga meningkat dari 136,11 T/G/H menjadi 148,93 T/G/H. Bag cargo relatif terjaga pada 37,55 T/G/H, sementara general cargo berada pada 59,03 T/G/H dibandingkan 75,4 T/G/H pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan produktivitas menjadi parameter penting dalam industri kepelabuhanan. Kemampuan menangani muatan lebih besar dalam satuan waktu dapat mempercepat proses pelayanan kapal, meningkatkan utilisasi fasilitas dan memberikan kontribusi terhadap efisiensi rantai logistik pengguna jasa.

Karena itu, pertumbuhan volume tidak menjadi satu-satunya parameter kinerja. Efisiensi operasi menjadi faktor yang semakin strategis seiring kebutuhan industri terhadap layanan logistik yang cepat, terukur dan memiliki kepastian waktu.

“Fokus kami bukan hanya mengejar pertumbuhan volume. Produktivitas dan efisiensi operasi juga harus meningkat sehingga pertumbuhan trafik dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi pengguna jasa dan ekosistem industri,” ujar Sutopo.

Posisi Pelabuhan Gresik semakin prospektif apabila dilihat dari struktur pasarnya. Berdasarkan data perusahaan, SPMT Branch Gresik memiliki pangsa pasar 100 persen pada pelayanan curah kering dan curah cair. Untuk general cargo, pangsa pasarnya mencapai sekitar 71 persen, sedangkan 29 persen lainnya ditangani perusahaan bongkar muat non-Pelindo.

Tren lima tahun terakhir juga memperlihatkan aktivitas pelabuhan yang semakin dinamis. Trafik kapal tercatat sebanyak 6.922 call pada 2021 dan meningkat menjadi 7.066 call pada 2022. Setelah terkoreksi menjadi 5.723 call pada 2023, jumlah kunjungan kapal kembali meningkat menjadi 7.302 call pada 2024 dan mencapai 7.457 call sepanjang 2025.

Pergerakan tersebut menunjukkan kemampuan aktivitas kepelabuhanan untuk kembali tumbuh setelah mengalami tekanan. Pada 2025, trafik general dan bag cargo mencapai sekitar 2,32 juta ton/m³. Pada periode yang sama, curah cair tercatat 809.963 ton dan curah kering 817.984 ton.

Basis kargo yang semakin terdiversifikasi menjadi modal bagi Pelabuhan Gresik untuk membangun pertumbuhan yang lebih resilien. Diversifikasi mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis komoditas sekaligus memberikan ruang bagi pelabuhan untuk menangkap pertumbuhan dari berbagai sektor industri.

Dalam perspektif ekonomi kawasan, peningkatan aktivitas pelabuhan juga berpotensi menciptakan efek berganda. Pergerakan barang akan berkorelasi dengan kebutuhan transportasi, pergudangan, bongkar muat dan berbagai jasa penunjang logistik lainnya. Pada saat yang sama, peningkatan efisiensi pelayanan dapat membantu industri menekan biaya logistik.

Posisi tersebut menjadi semakin strategis mengingat Gresik merupakan salah satu basis industri utama di Jawa Timur. Kedekatan pelabuhan dengan kawasan produksi menciptakan peluang untuk membangun sistem logistik yang lebih efisien sekaligus memperpendek rantai distribusi.

Bagi Pelindo, momentum pertumbuhan semester pertama menjadi pijakan untuk terus memperkuat kualitas pelayanan dan produktivitas. Tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan tonase barang yang melewati dermaga, tetapi memastikan kapasitas fasilitas, pola operasi dan kualitas layanan berkembang sejalan dengan kebutuhan industri.

“Kami optimistis Pelabuhan Gresik masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Dengan ekosistem industri yang terus berkembang, kami ingin memastikan pelabuhan mampu menjadi bagian dari solusi logistik yang efisien, produktif dan kompetitif bagi dunia usaha,” pungkasnya.

Editor : Cak Fir
Pelindo Gresik Industri pelabuhan bongkar muat