Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) melakukan penyegaran jajaran direksi PT Petrokimia Gresik melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar di Jakarta pada Selasa (30/6) malam.
Dalam keputusan tersebut, Muhammad Ihwan F. ditunjuk sebagai Direktur Manajemen Risiko PT Petrokimia Gresik, menggantikan Johanes Barus yang telah menjabat selama satu tahun terakhir. Sebelum dipercaya mengisi posisi tersebut, Ihwan menjabat sebagai General Manager Regional 2 PT Pupuk Indonesia (Persero).
Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), Yehezkiel Adiperwira, menyampaikan RUPS juga menetapkan penambahan satu posisi baru dalam struktur direksi, yakni Direktur Pengembangan. Jabatan tersebut diamanahkan kepada Herdijanto Utomo, yang sebelumnya menjabat sebagai Senior Vice President (SVP) Pengembangan Usaha PT Pupuk Indonesia (Persero).
Penunjukan Ihwan menjadi salah satu perhatian dalam restrukturisasi kali ini. Sebab, ia bukan figur baru di lingkungan PT Petrokimia Gresik. Kariernya di perusahaan pupuk terbesar di Indonesia tersebut dimulai pada Agustus 2005 dan berkembang melalui berbagai jenjang organisasi, mulai dari staf hingga menduduki sejumlah posisi strategis.
Sebelum dipercaya memimpin Regional 2 PT Pupuk Indonesia, Ihwan dikenal luas sebagai salah satu eksekutif yang berkiprah di bidang komunikasi korporat. Di Petrokimia Gresik, ia pernah menjabat sebagai Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) serta Vice President Komunikasi Korporat. Pada masa tersebut, perannya dalam membangun komunikasi perusahaan dengan para pemangku kepentingan menjadikan namanya dikenal tidak hanya di lingkungan internal, tetapi juga di kalangan masyarakat dan media.
Selain memiliki pengalaman panjang di bidang korporasi, M. Ihwan juga dikenal aktif dalam dunia literasi. Ia memiliki ketertarikan pada bidang kepenulisan dan telah menerbitkan sebuah buku yang mengangkat kisah epik Mahabharata.
Dalam salah satu unggahannya, ia menceritakan bahwa buku keduanya lahir dari ketertarikannya menggali nilai-nilai kepemimpinan, moralitas, dan kebijaksanaan yang terkandung dalam epos tersebut.
Bagi Ihwan, Mahabharata bukan sekadar cerita pewayangan, melainkan sumber pembelajaran mengenai kompleksitas kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Salah satu tokoh yang ia soroti ialah Yudhistira, sosok yang dikenal menjunjung tinggi kejujuran namun tetap memiliki sisi kemanusiaan.
Melalui pendekatan itu, Ihwan ingin menunjukkan bahwa seorang pemimpin dituntut mampu memahami persoalan secara utuh, tidak semata melihatnya dalam perspektif hitam dan putih.
Pengembangan kapasitas kepemimpinannya juga ditempuh melalui pendidikan di Lemhanas. Saat mengikuti program tersebut, Ihwan pernah menyampaikan kepada Radar Gresik bahwa pendidikan di Lemhannas memberikan perspektif yang jauh lebih komprehensif dibanding sekadar pemahaman normatif mengenai Pancasila. Melainkan juga menekankan implementasi kebangsaan dalam konteks strategis. Pembekalan mengenai isu-isu geopolitik, ketahanan nasional, hingga dinamika global yang relevan dengan tantangan kepemimpinan di era modern. (fir)
Editor : Cak Fir