Kebomas – Deretan botol jamu temulawak tersusun rapi di dalam freezer milik Siti Nur Afidah. Beberapa tahun lalu, produk itu hanya dipasarkan dari mulut ke mulut dan melalui status WhatsApp. Kini, dalam momentum tertentu seperti bazar Ramadan, hingga 100 botol temulawak yang diproduksinya bisa habis dalam hitungan jam.
Perubahan itu tidak terjadi begitu saja. Di balik pertumbuhan usaha rumahan milik warga Kelurahan Ngipik, Kecamatan Gresik tersebut, terdapat pendampingan berkelanjutan melalui program Kelompok Jajanan Masyarakat Sekitar (Lontar) yang dijalankan PT Petrokimia Gresik.
Afidah merintis usaha jamu temulawak sejak 2019. Saat itu, pemasaran produknya masih sangat terbatas. Penjualan hanya mengandalkan jaringan pertemanan dan pelanggan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
“Dulu jualannya cuma dari rumah ke rumah, lewat WA atau grup lapak. Lakunya lama sekali,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Memasuki program Lontar, usaha yang dirintisnya mulai mengalami perkembangan signifikan. Tidak hanya mendapatkan tambahan modal usaha, Afidah juga memperoleh bantuan peralatan produksi, pelatihan pengemasan produk, hingga fasilitasi pengurusan perizinan dan sertifikasi.
Pendampingan tersebut menjadi fondasi penting bagi pelaku UMKM untuk naik kelas dan memperluas pasar.
“Kalau tidak ada pendampingan, kami tidak bisa jalan. Untuk bahan, alat, sertifikasi, tes, itu semua sulit dan biayanya tidak sedikit,” ungkapnya.
Kini, setiap hari Afidah mampu memproduksi sekitar 100 botol temulawak dalam kemasan botol kecil. Produk tersebut biasanya tersimpan di freezer dan habis terjual dalam dua hingga tiga hari. Namun saat permintaan meningkat, terutama ketika bazar Ramadan yang difasilitasi program Lontar, seluruh stok bisa langsung terserap pasar dalam satu hari.
“Waktu puasa kemarin, sekali bikin 100 botol langsung habis dalam satu hari. Malamnya bikin lagi untuk besok. Begitu terus sampai dua hari,” katanya sambil tersenyum.
Tidak hanya jamu temulawak, berbagai produk lain yang diproduksinya seperti kacang goreng, kacang telur dalam kemasan toples, kolak kacang hijau, hingga aneka jajanan pasar juga mendapatkan respons positif dari konsumen.
Program Lontar yang digagas Petrokimia Gresik menjadi jembatan bagi pelaku usaha mikro di wilayah ring satu perusahaan untuk memperoleh akses pasar yang lebih luas. Melalui berbagai kegiatan promosi, bazar, hingga keterlibatan dalam agenda perusahaan, produk UMKM lokal mendapat ruang untuk berkembang.
Sebelum bergabung dalam program tersebut, pasar yang dijangkau Afidah hanya berada di sekitar lingkungan rumahnya. Saat ini, pesanan datang dari berbagai pihak, termasuk kebutuhan kegiatan internal perusahaan.
“Alhamdulillah sekarang pesanan datang bukan hanya dari tetangga, tapi juga dari kegiatan perusahaan,” imbuhnya.
Dampaknya pun dirasakan langsung oleh keluarga. Peningkatan omzet usaha membantu menopang kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung pendidikan kedua anaknya. Saat ini satu anaknya telah bekerja, sementara satu lainnya sedang menempuh pendidikan tinggi.
Selain memperluas akses pemasaran, Petrokimia Gresik juga mendorong peningkatan kualitas produk melalui pelatihan kemasan agar lebih menarik dan mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
“Dulu kemasan kami biasa saja. Sekarang diajari bikin kemasan yang bagus supaya terlihat menarik dan profesional,” katanya.
Kisah Afidah menjadi salah satu gambaran nyata dampak program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Petrokimia Gresik. Melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada bantuan modal, tetapi juga peningkatan kapasitas dan akses pasar, perusahaan berupaya menciptakan UMKM yang mandiri dan berkelanjutan.
Secara terpisah, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Gresik Darmawan memberikan apresiasi terhadap kontribusi Petrokimia Gresik dalam mendukung pengembangan UMKM melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
"Melalui pelatihan yang terstruktur, para pelaku UMKM dibekali peningkatan kapasitas manajemen usaha, literasi keuangan, hingga strategi pemasaran berbasis digital. Selain itu, akses permodalan yang lebih mudah membantu pelaku usaha mengembangkan skala produksi dan memperluas jangkauan pasar," tuturnya.
Menurut Darmawan, kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing UMKM di tengah perkembangan ekonomi dan digitalisasi yang semakin pesat.
Pemkab Gresik berharap program serupa dapat terus diperluas sehingga semakin banyak pelaku usaha mikro yang merasakan manfaatnya.
"Dengan pemerataan dukungan, dampak positif program diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat," urainya.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi digital untuk promosi dan distribusi produk menjadi salah satu kunci peningkatan omzet dan perluasan pasar UMKM ke depan.
"Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah, perusahaan, dan pelaku UMKM diharapkan terus diperkuat guna menciptakan ekosistem usaha yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan," pungkasnya. (fir)
Editor : Cak Fir