RADAR GRESIK – Upaya meningkatkan efisiensi logistik di gerbang maritim Jawa Timur terus dipacu. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak Surabaya bersama PT Terminal Teluk Lamong (TTL) resmi melaksanakan uji coba penataan Zona Labuh 2, Sabtu (25/4).
Program ini merupakan bagian dari implementasi Express Anchorage Zone Service (EAZI) yang bertujuan menciptakan sistem pelayanan kapal yang lebih terjadwal, terintegrasi, serta menjamin keselamatan navigasi.
Pilot project ini dilaksanakan di Terminal Petikemas Nilam (TPK Nilam) dan akan dilanjutkan ke Terminal Petikemas Berlian (TPK Berlian).
Melalui skema baru ini, kapal berukuran di atas 4000 GT dengan panjang maksimal (LOA) 150 meter tidak lagi perlu menunggu di area labuh luar.
Sistem ini didukung penuh oleh platform digital Inaportnet yang terintegrasi dengan Portal Perak Extended (KSOP) dan Phinisi (Pelindo). Dengan integrasi ini, perencanaan kedatangan kapal (Estimated Time of Arrival) menjadi lebih presisi.
Targetnya pun ambisius, waktu tunggu kapal yang semula rata-rata 4–6 jam ditekan signifikan menjadi hanya sekitar 2 jam, bahkan kurang.
Dalam operasional riil, MV Minas Baru terpilih sebagai kapal pertama yang mencoba sistem ini. Kapal tersebut terpantau memasuki zona EAZI dan lego jangkar pada pukul 13.42 WIB. Hanya dalam waktu sekitar satu jam, kapal sudah bisa melakukan manuver sandar pada pukul 15.50 WIB.
Kepala Kantor KSOP Utama Tanjung Perak, Agustinus Maun, menyatakan bahwa penerapan EAZI terbukti efektif dalam meningkatkan keteraturan plotting kapal.
“Keberhasilan ini didukung oleh optimalisasi koordinasi antara unsur KSOPU Tanjung Perak, Pandu, VTS, dan PT Terminal Teluk Lamong yang berjalan selaras dengan SOP, sehingga secara signifikan meningkatkan kelancaran aktivitas di Pelabuhan Tanjung Perak,” jelas Agustinus.
Terminal Head TPK Nilam, Retno Pujianto, menambahkan bahwa penataan zona labuh ini bukan sekadar soal kecepatan, melainkan juga kepastian layanan dan keselamatan bagi pengguna jasa.
"Ini langkah penting dalam transformasi layanan kepelabuhanan. Pengaturan pergerakan kapal yang terstruktur mengurangi kepadatan dan potensi gangguan lalu lintas di alur pelayaran," ujarnya.
Baca Juga: Kampung Hidroponik Berjaya, Terminal Teluk Lamong Raih Penghargaan TJSL di Berita Jatim Award 2026
Sinergi antara regulator dan operator pelabuhan ini diharapkan menjadi standar baru dalam pengelolaan pelabuhan utama di Indonesia.
Evaluasi berkelanjutan akan terus dilakukan sebelum sistem ini diterapkan secara penuh untuk mendongkrak daya saing sektor logistik nasional di tingkat global. (han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik