Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Kunjungi KEK Gresik, Sesdilu Kementrian Luar Negeri Belajar Diplomasi Ekonomi

Cak Fir • Jumat, 17 April 2026 | 19:32 WIB

 

KEK Gresik ditargetkan mampu menyerap sekitar 42 ribu tenaga kerja dengan nilai investasi mencapai USD 6,7 miliar pada periode awal 2021–2026.
KEK Gresik ditargetkan mampu menyerap sekitar 42 ribu tenaga kerja dengan nilai investasi mencapai USD 6,7 miliar pada periode awal 2021–2026.

Manyar – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik menjadi lokasi studi lapangan peserta Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) Angkatan ke-80 Kementerian Luar Negeri, Jumat (18/4). Kunjungan ini difokuskan pada pendalaman praktik diplomasi ekonomi, khususnya dalam memahami dinamika investasi dan pengembangan kawasan industri strategis nasional.

Dalam kegiatan tersebut, peserta melakukan audiensi dengan pengelola kawasan PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) serta sejumlah tenant industri, di antaranya PT Freeport Indonesia, PT Xinyi Glass Indonesia, PT Hailiang Nova Material Indonesia, PT Fertilizer Inti Technology, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Unichem Candi Indonesia. Agenda dilanjutkan dengan peninjauan langsung aktivitas industri di dalam kawasan untuk memperoleh gambaran operasional secara komprehensif.

External Relation and Special Economic Zone Director JIIPE, Roro Ayu Yayuk Dwi Hastuti, menjelaskan KEK Gresik yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2021 dirancang sebagai kawasan industri terintegrasi dari hulu hingga hilir. Struktur kawasan mencakup berbagai klaster, mulai dari logam, kimia, energi, elektronik, hingga logistik dan pelabuhan, yang saling terhubung dalam satu ekosistem industri.

“Konsep utama kami adalah membangun rantai pasok industri dari hulu ke hilir agar biaya logistik lebih efisien dan daya saing global meningkat, dengan tetap mengedepankan konsep kawasan industri hijau,” kata Roro Ayu.

Dalam proyeksi pengembangan, KEK Gresik ditargetkan mampu menyerap sekitar 42 ribu tenaga kerja dengan nilai investasi mencapai USD 6,7 miliar pada periode awal 2021–2026. Sementara dalam jangka panjang hingga 2036, nilai investasi diperkirakan meningkat hingga USD 16 miliar dengan potensi penyerapan tenaga kerja mencapai 200 ribu orang.

"Industri pengolahan menjadi sektor terbesar dalam struktur ekonomi Indonesia dengan kontribusi 19,07 persen terhadap PDB nasional pada 2025, sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar menurut data BPS Februari 2026," imbuhnya.

Dalam sesi diskusi, para tenant memaparkan perkembangan investasi yang tengah berjalan, mulai dari operasional smelter tembaga, pembangunan fasilitas manufaktur emas berkapasitas sekitar 30 ton per tahun, hingga pengembangan industri garam farmasi yang menunjukkan tren peningkatan.

Meski demikian, aspek kesiapan sumber daya manusia menjadi perhatian utama dalam dialog tersebut. Peserta Sesdilu menyoroti adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja di daerah, terutama dalam menghadapi percepatan investasi berskala besar.

Menanggapi hal tersebut, Roro menyampaikan bahwa pihak JIIPE telah melakukan berbagai upaya, mulai dari program sertifikasi gratis, pelatihan berbasis industri, hingga kerja sama dengan berbagai lembaga untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal.

“Kami juga tengah melakukan pemetaan tenaga kerja bersama dinas terkait untuk mengetahui profil pendidikan dan usia angkatan kerja, sehingga program yang disiapkan bisa lebih tepat sasaran,” terangnya.

Seiring meningkatnya investasi asing, khususnya dari Tiongkok, muncul pula gagasan pengembangan Kampung Mandarin sebagai upaya peningkatan kapasitas komunikasi tenaga kerja lokal. Inisiatif ini terinspirasi dari model pembelajaran berbasis kawasan seperti Kampung Inggris di Pare, Kediri.

Roro mengakui bahwa ide tersebut memiliki potensi, meskipun implementasinya masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan tenaga pengajar dan keberlanjutan program.

“Peminatnya sebenarnya banyak, tetapi untuk pengajar masih menjadi tantangan. Ini akan kami komunikasikan lebih lanjut dengan pemerintah daerah dan pihak terkait,” jelasnya.

Di sisi lain, KEK JIIPE juga mendorong keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rantai pasok industri. Sejumlah tenant telah memanfaatkan produk dan jasa UMKM lokal untuk kebutuhan operasional, mulai dari penyediaan alat hingga jasa pendukung lainnya.

Meski demikian, tantangan dalam pemenuhan standar kualitas masih menjadi perhatian. Untuk itu, pembinaan dan peningkatan kapasitas UMKM terus dilakukan agar mampu memenuhi kebutuhan industri berskala besar.

“Kami ingin kehadiran KEK ini memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Gresik, bukan hanya di sekitar kawasan. Karena itu, UMKM lokal terus kami dorong agar bisa menjadi bagian dari ekosistem industri,” pungkasnya. (fir)

Editor : Cak Fir
#kementrian luar negeri #gresik #KEK #JIIPE