Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Petrokimia Gresik Perkuat Strategi Mitigasi Risiko Bahan Baku di Tengah Tekanan Geopolitik Global

Cak Fir • Rabu, 1 April 2026 | 16:05 WIB
Siaga : Direktur Utama PT Petrokimia Gresik, Daconi Khotob menyampaikan paparan dalam momentum Argus Fertilizer Asia Confrence di Bali.
Siaga : Direktur Utama PT Petrokimia Gresik, Daconi Khotob menyampaikan paparan dalam momentum Argus Fertilizer Asia Confrence di Bali.

Kebomas – Dinamika geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah sebagai episentrum pasokan energi dan bahan baku industri, kian menekan stabilitas rantai pasok komoditas strategis dunia. Dalam konteks tersebut, Petrokimia Gresik memperkuat strategi mitigasi risiko untuk menjaga keberlanjutan pasokan sulfur bahan baku krusial dalam industri pupuk dan kimia nasional.

Langkah ini disampaikan Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, dalam forum internasional Argus Fertilizer Asia Conference 2026 di Bali. Ia menekankan bahwa struktur pasar sulfur global saat ini masih sangat terkonsentrasi, dengan sekitar 33 persen pasokan atau setara 20 juta ton per tahun berasal dari kawasan Teluk Persia. 

Di sisi lain, Indonesia masih mengandalkan impor lebih dari 75 persen dari kawasan tersebut, sehingga eksposur terhadap risiko geopolitik dan disrupsi logistik menjadi sangat tinggi.

“Volatilitas kawasan Timur Tengah berimplikasi langsung terhadap harga dan ketersediaan sulfur di pasar global. Hal ini menuntut pelaku industri untuk memperkuat strategi pengamanan pasokan secara sistemik,” ujar Daconi.

Pada saat yang sama, permintaan domestik terhadap asam sulfat menunjukkan tren akseleratif, dengan kebutuhan nasional mencapai sekitar 19 juta ton per tahun. Peningkatan ini didorong oleh dua sektor utama, yakni industri pupuk serta hilirisasi mineral, khususnya nikel, yang menjadi bagian integral dari pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Dalam kerangka ini, sulfur tidak lagi diposisikan semata sebagai komoditas input, melainkan sebagai elemen strategis dalam menopang ketahanan pangan dan kemandirian industri nasional. Ketersediaannya menjadi determinan bagi keberlanjutan produksi pupuk fosfat dan NPK, sekaligus mendukung berbagai proses industri, mulai dari pengolahan logam hingga pengolahan air.

Petrokimia Gresik, sebagai bagian dari holding Pupuk Indonesia, saat ini mengoperasikan fasilitas produksi asam sulfat dengan kapasitas mencapai 1,8 juta ton per tahun yang terintegrasi dengan proses produksi pupuk dan bahan kimia lainnya. Integrasi ini memberikan leverage operasional dalam mengelola efisiensi sekaligus menjaga kesinambungan pasokan bahan baku di dalam negeri.

Menghadapi tekanan eksternal, perusahaan mengadopsi pendekatan multi-layered dalam pengamanan pasokan. Strategi tersebut mencakup diversifikasi sumber impor untuk mengurangi konsentrasi risiko geografis, penguatan kontrak jangka panjang guna menjaga stabilitas harga dan volume, serta pengembangan infrastruktur logistik dan penyimpanan sebagai buffer terhadap potensi gangguan distribusi.

Selain itu, transformasi struktur permintaan global juga menjadi faktor yang diperhitungkan. Kebijakan hilirisasi mineral di Indonesia, ekspansi industri baterai berbasis nikel, serta penerapan standar lingkungan yang semakin ketat mendorong peningkatan konsumsi sulfur, terutama untuk proses high-pressure acid leaching (HPAL) yang membutuhkan asam sulfat dalam skala besar.

Dalam lanskap Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga berpotensi menjadi pusat permintaan strategis sulfur global. Kondisi ini menuntut adanya orkestrasi kebijakan industri dan penguatan kapasitas domestik agar tidak terjebak dalam ketergantungan struktural terhadap pasokan eksternal.

Daconi menegaskan bahwa stabilitas pasokan bahan baku menjadi prasyarat utama dalam menjaga kesinambungan produksi pupuk nasional. Hal ini memiliki implikasi langsung terhadap agenda besar ketahanan pangan, yang dalam konteks global saat ini semakin dipengaruhi oleh faktor eksternal non-ekonomi.

“Kami memandang penguatan supply chain dan optimalisasi kapasitas domestik sebagai langkah strategis untuk menjaga resiliensi industri. Dengan demikian, kebutuhan pupuk nasional tetap dapat terpenuhi secara berkelanjutan,” tegasnya. (fir)

Editor : Cak Fir
#PUPUK #gresik #pupuk indonesia #Petrokimia Gresik #Petro