Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Melihat Masa Depan Energi Bersih Nasional dari Benowo hingga Ijen, Ini Cerita PLN Gabungkan EBT dan Digitalisasi

Muhammad Firman Syah • Jumat, 16 Januari 2026 | 14:50 WIB

GM UID PLN Jawa Timur, Ahmad Mustaqir mencoba teknologi VR untuk melihat PLTP Ijen di Banyuwangi.
GM UID PLN Jawa Timur, Ahmad Mustaqir mencoba teknologi VR untuk melihat PLTP Ijen di Banyuwangi.

Surabaya — Transformasi energi nasional menjadi salah satu agenda strategis pemerintah Indonesia dalam menjawab tantangan perubahan iklim, ketahanan energi, serta dinamika geopolitik global. Dalam proses tersebut, PT PLN (Persero) berperan sebagai ujung tombak negara dalam memastikan pasokan listrik tetap andal sekaligus berkelanjutan melalui percepatan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Komitmen tersebut tercermin dalam langkah PLN yang secara konsisten menyelaraskan kebijakan korporasi dengan arah pembangunan nasional, sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang berorientasi pada energi bersih. Melalui pendekatan ini, PLN tidak hanya berfungsi sebagai penyedia listrik, tetapi juga sebagai penggerak transisi energi nasional.

Dalam perspektif kebijakan publik, kolaborasi antara PLN dan pemerintah menunjukkan model transisi energi berbasis peran negara, di mana BUMN menjadi pelaksana utama kebijakan strategis nasional. PLN memastikan bahwa pengembangan EBT dapat berjalan seiring dengan prinsip keandalan pasokan listrik dan keterjangkauan bagi masyarakat.

Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa kapasitas terpasang EBT nasional terus meningkat dari tahun ke tahun. Meski target bauran energi nasional masih menjadi tantangan, langkah PLN dalam mengintegrasikan EBT dan digitalisasi sistem menjadi fondasi penting menuju sistem energi yang lebih adaptif dan tangguh.
Penutup

Berdasarkan data saat ini Total kapasitas pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 15,63 GW (15.630 MW) pada akhir 2025 atau meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya dan setara sekitar 15,75 persen dari total kapasitas pembangkit nasional. Realisasi ini menunjukkan pertumbuhan kapasitas dibanding data beberapa tahun terakhir yang menunjukkan tren peningkatan EBT secara konsisten sejak 2017.

Sementara Komposisi Sumber Energi EBT Menurut data Kementerian ESDM yang dipublikasikan tahun 2025 sebagai berikut, PLTA (hidro) sekitar 7.587 MW, Bioenergi sekitar 3.148 MW, Panas bumi (geothermal): sekitar 2.744 MW, PLTS (surya): sekitar 1.494 MW  PLTB (angin) dan lainnya berada di kisaran ratusan MW.

General Manager PLN UID Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, menyampaikan, saat ini digitalisasi telah diterapkan di seluruh lini operasional PLN, termasuk dalam pengelolaan pembangkit energi terbarukan.

"Pemanfaatan teknologi digital memungkinkan pengoperasian dan pemantauan pembangkit dilakukan secara real time, terintegrasi, dan efisien. Sistem ini juga memperkuat ketahanan infrastruktur kelistrikan nasional, khususnya dalam menghadapi tantangan non-teknis seperti risiko gangguan siber yang kini menjadi perhatian global," kata GM PLN UID Jatim, Ahmad Mustaqir.

Langkah digitalisasi tersebut sejalan dengan visi PLN yang menempatkan teknologi sebagai instrumen utama dalam meningkatkan keandalan sistem, efisiensi operasional, serta kualitas layanan kepada masyarakat. Dalam hal ini, Jawa Timur menjadi salah satu wilayah strategis dalam implementasi transisi energi nasional.

"Melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait, PLN mengembangkan berbagai pembangkit EBT yang terintegrasi dengan sistem kelistrikan regional," imbuhnya.

Melalui kegiatan Virtual Journey to Green Power: Menjelajah Energi Masa Depan, PLN UID Jawa Timur memperkenalkan sejumlah pembangkit EBT unggulan, antara lain PLTSa Benowo Surabaya yang memanfaatkan sampah perkotaan sebagai sumber energi sekaligus solusi pengelolaan lingkungan, PLTP Ijen yang mengoptimalkan potensi panas bumi sebagai energi beremisi rendah, serta PLTMH Banyuwangi yang memanfaatkan potensi aliran sungai untuk pembangkit listrik skala kecil.

"Keberadaan pembangkit-pembangkit tersebut mencerminkan pendekatan diversifikasi energi yang tidak hanya berorientasi pada kapasitas, tetapi juga keberlanjutan dan pemerataan pemanfaatan sumber daya lokal," tuturnya.

 

Melalui transformasi digital dan pengembangan energi bersih, PLN bersama pemerintah menegaskan komitmen dalam membangun sistem ketenagalistrikan nasional yang berkelanjutan. Inisiatif seperti Virtual Journey to Green Power menjadi bagian dari upaya transparansi dan edukasi publik mengenai arah kebijakan energi nasional.

"Dengan sinergi yang kuat antara negara dan BUMN, transisi energi Indonesia tidak lagi sekadar wacana, melainkan proses nyata yang terus bergerak menuju masa depan energi yang lebih hijau dan berdaya saing," pungkasnya.

Editor : Cak Fir