Manyar - PT Freeport Indonesia memasuki fase pemulihan yang penuh optimisme setelah insiden longsoran material basah yang terjadi pada (08/09) lalu. Tiga area tambang bawah tanah di Tembagapura terdampak langsung, hal ini membuat seluruh proses produksi berhenti total. Namun, pemulihan berjalan lebih cepat dari perkiraan awal dan kini penambangan bijih telah kembali dilakukan secara bertahap.
Berdasarkan informasi, aaat ini Freeport sudah mampu menambang sekitar 65 hingga 70 ribu ton bijih setiap hari, atau sekitar 30 persen dari kapasitas normal yang mencapai 200 ribu ton per hari. Meski belum penuh, langkah ini menandai kembalinya denyut operasional pasca-disrupsi besar yang sempat menghambat pasokan nasional konsentrat tembaga.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menjelaskan bahwa pasokan konsentrat yang dihasilkan saat ini diprioritaskan untuk dikirim ke PT Smelting sesuai perjanjian yang berlaku. Kondisi produksi hulu yang belum pulih sepenuhnya membuat pengiriman ke Smelter Manyar belum dapat dilakukan.
"Kita mengutamakan PT Smelting dulu. Konsentrat kita kirim ke sana,” tuturnya saat meninjau Smelter Manyar di Gresik, Senin (9/12).
Sementara itu, Smelter Manyar di JIIPE Gresik saat ini berada dalam fase maintenance. Seluruh perangkat strategis dijaga tetap dalam kondisi siap operasi melalui perawatan rutin dan pengaturan rotasi kerja. Tidak ada pemutusan hubungan kerja bagi karyawan tetap, perusahaan hanya menyesuaikan jadwal kerja untuk menyeimbangkan kebutuhan operasional.
"Karyawan tidak ada yang di-PHK. Tetap bekerja tapi jadwalnya kita sesuaikan,” kata Tony.
Pihaknya menargetkan penambangan di Grasberg Block Cave (GBC) kembali beroperasi pada Maret 2026 mendatang. Satu bulan kemudian, aliran konsentrat diproyeksikan mulai masuk ke Gresik, sehingga Smelter Manyar dapat memasuki fase operasi bertahap mulai April.
Sebelumnya, pada Oktober 2025, ramp up smelter tersebut sudah mencapai 80 persen dan ditargetkan mencapai operasi penuh pada Desember 2025. Namun rencana itu bergeser karena berhentinya pasokan konsentrat dari hulu pasca-insiden longsor.
Perusahaan memastikan periode jeda ini tidak terbuang percuma. Smelter Manyar terus menjalani heating up, uji teknis, dan penyempurnaan sistem agar ketika pasokan tiba, fasilitas tersebut dapat langsung melaju stabil dan aman. Tahapan ini menjadi bagian dari strategi ramp up yang lebih matang dan terkendali.
Freeport memproyeksikan operasional GBC akan mencapai kapasitas penuh pada 2027. Namun, proses pemulihan yang kini berlangsung menunjukkan arah yang semakin positif. Pemulihan produksi, pemeliharaan smelter, serta terjaganya tenaga kerja menjadi sinyal bahwa rantai hilirisasi nasional tetap bergerak maju.
Editor : Cak Fir