Bungah — Di sudut Desa Tanjung Widoro, Kecamatan Bungah, hidup seorang perempuan tangguh bernama Siti Nurfadilah. Setiap hari, ia bekerja keras sebagai kuli bangunan demi menghidupi keluarga. Selama lima tahun terakhir, aliran listrik di rumahnya hanya bersumber dari sambungan tetangga. Gelap bukan sekadar soal cahaya, tapi tentang keterbatasan yang membelenggu kehidupan.
Namun cahaya itu akhirnya datang bukan hanya dari lampu, tapi juga dari tangan-tangan yang peduli. Melalui program Light Up The Dream (LUTD), PT PLN (Persero) UP3 Gresik berkolaborasi dengan Yayasan Baitul Maal (YBM) memberikan pemasangan kWh meter gratis dan bantuan paket sembako kepada Siti. Sebuah aksi nyata yang sederhana, namun membawa makna besar bagi kehidupan.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PLN dan semua pihak yang telah membantu. Ini sangat berarti bagi saya dan keluarga. Akhirnya, rumah kami punya listrik sendiri setelah lima tahun.” tutur Siti dengan mata berkaca-kaca.
Kegiatan ini bukan sekadar simbol kepedulian, tapi juga komitmen PLN untuk hadir di tengah masyarakat. Manager PLN UP3 Gresik, Andi Seno Hendriatmoko menyampaikan, program ini menjadi wujud keberpihakan PLN terhadap warga prasejahtera.
“Kami percaya bahwa tak ada kata bosan untuk berbagi, menyebarkan senyum, dan memberi manfaat. Semoga langkah kecil ini memberi dampak besar,” ungkap Andi.
Sejak awal 2025, sudah 34 keluarga prasejahtera di Gresik yang menerima manfaat dari program LUTD. Setiap penerima bukan sekadar angka dalam laporan, tapi wajah-wajah harapan yang kini bisa menyalakan lampu, mengisi daya telepon, dan menjalani hari dengan lebih layak.
PLN UP3 Gresik melalui program LUTD tak hanya menerangi rumah warga, tapi juga menyalakan semangat kebersamaan. Di balik kilatan listrik, ada cerita kemanusiaan. Bahwa listrik bukan cuma infrastruktur, tapi juga jembatan menuju kehidupan yang lebih baik.
Editor : Cak Fir