RADAR GRESIK - Di tengah era digital dan transaksi nontunai serba cepat, sebuah pasar tradisional di ujung utara Kabupaten Gresik justru menawarkan pengalaman yang benar-benar berbeda. Di Pasar Segoro Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, uang tak berlaku. Sebagai gantinya, kerang laut dijadikan alat tukar.
Pasar unik ini digagas oleh Komunitas Ngayom Jagad, yang terdiri dari anak-anak muda kreatif Gresik Utara. Pasar Segoro tidak sekadar pasar, tetapi juga perayaan identitas lokal. Kegiatan ini dirancang sebagai agenda berkala, yang akan digelar setiap hari Wage dan Pon dalam kalender Jawa.
Berjalan menyusuri lapak-lapak di Pasar Segoro, pengunjung akan disambut aroma sedap dari kuliner tradisional seperti sego karak, pepes iwak laut, dan klepon pisang. Namun jangan buru-buru merogoh dompet. Di sini, transaksi hanya bisa dilakukan dengan kerang yang telah dikonversi menjadi alat tukar. “Satu kerang setara dengan dua ribu rupiah,” jelas Khoirul Fatiqin, Ketua Pelaksana Pasar Segoro.
“Ini bukan sekadar gimmick. Kerang adalah simbol pesisir, dan kami ingin menghadirkan kembali nilai-nilai tradisional yang mulai tergerus zaman,” katanya.
Kerang-kerang ini disediakan oleh panitia dan bisa ditukar pengunjung di konter penukaran, persis seperti membeli koin di taman hiburan. Dengan pendekatan ini, kegiatan jual beli menjadi lebih seru dan mengakar secara budaya.
Tak hanya soal makanan dan transaksi, Pasar Segoro juga menyuguhkan pentas seni budaya pesisir yang kental. Mulai dari penampilan Reog Pantura, musik tradisional, hingga pertunjukan teatrikal tentang kehidupan nelayan, membuat suasana pasar terasa hidup dan otentik.
Salah satu daya tarik utamanya adalah pameran instalasi seni, yang menampilkan replika perahu nelayan, jaring ikan, hingga lukisan dan kerajinan dari limbah laut. Semua karya adalah bentuk penghormatan terhadap laut sebagai ibu kehidupan masyarakat Campurejo.
Uniknya, seluruh kegiatan di Pasar Segoro bebas dari penggunaan plastik sekali pakai. Para penjual menyajikan makanan menggunakan wadah ramah lingkungan seperti daun pisang atau pincuk, dan pengunjung dianjurkan membawa tumbler serta tas belanja sendiri.
Baca Juga: Bukan Cuma Tilang, Polres Gresik Bikin Acara Olahraga Paling Seru, Hadiahnya Bikin Melongo
“Kami ingin menghadirkan suasana tempo dulu yang menyatu dengan alam. Sekaligus menyuarakan pentingnya menjaga laut dari sampah plastik,” tutur Khoirul.
Kepala Desa Campurejo, Uudien mengapresiasi terhadap Pasar Segoro yang disebutnya sebagai "napas baru" bagi warganya, terutama kalangan pemuda.
“Anak-anak muda Campurejo punya semangat luar biasa. Mereka mengangkat kembali warisan kuliner dan budaya desa. Kerang sebagai alat transaksi adalah simbol dari desa ini desa nelayan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini pula, warga setempat mulai merasakan manfaat ekonomi. Produk UMKM, kerajinan, dan hasil laut yang dijual mendapat pasar langsung dari pengunjung yang datang bukan hanya dari Gresik, tapi juga luar daerah. “Pasar ini bukan hanya tempat berbelanja, tapi tempat mengenang, belajar, dan menjaga warisan budaya kita,” pungkas Khoirul. (yud/han)
Editor : Hany Akasah