Berkat Freeport Indonesia, Gresik Kini Menjadi Pusat Tembaga Dunia
Muhammad Firman Syah• Senin, 23 September 2024 | 01:44 WIB
Siap Produksi : Fasilitas pemurnian konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia di Kabupaten Gresik siap memproduksi katoda tembaga.
Manyar- Presiden RI Joko Widodo dijadwalkan akan meresmikan pabrik pemurnian konsentrat tembaga Smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) pada hari Senin (23/09) besok. Selain menjadi tonggak sejarah baru bagi Indonesia, kehadiran fasilitas Smelter PTFI di kota wali ini sekaligus menjadi wujud nyata perusahaan dalam mendukung program hilirisasi pertambangan nasional.
Jika merujuk pada kilas balik perjalanan perusahaan, sebenarnya PTFI sudah lebih dari 30 tahun hadir di Kabupaten Gresik. Langkah itu dimulai pada tahun 1994 saat Freeport McMoRran berkerja sama dengan Mitsubishi Materials Corporation (MMC) membangun fasilitas pemurnian konsentrat tembaga pertama di Indonesia yang diberinama PT Smelting di kawasan industri Roomo Manyar, Gresik.
Berdirinya PT Smelting di Gresik sebagai bentuk upaya pemenuhan kewajiban kontrak karya ke II antara PTFI dengan pemerintah kala itu. Melalui PT Smelting Gresik Freeport dan MMC mampu memproduksi 300 ribu ton katoda tembaga dan anoda tembaga pertahun.
Kehadiran PT Freeport Indonesia di kota wali semakin nyata setelah Presiden RI Joko Widodo bertekad menjalankan program hilirisasi nasional khususnya di sektor pertambangan.
Gayungpun bersambut, pada tahun 2013 PT Freeport Indonesia sebenarnya sudah mempersiapkan perancangan konseptual fasilitas Smelter baru meski saat itu lokasinya belum ditentukan. Kendati rancangan konsep proyek sudah dimulai sejak tahun 2013 namun Smelter belum kunjung dibangun. Barulah pada tahun 2021 PT Freeport Indonesia bersama pemerintah secara resmi memutuskan lokasi Smelter berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik.
Photo
Keseriusan PTFI membangun Smelter dengan kapasitas yang lebih besar yakni 1,7 juta ton konsentrat tembaga pertahun dengan angka investasi awal hingga Rp 48 triliun ditandai dengan dilakukannya peletakan batu pertama oleh Presiden RI, Joko Widodo pada 12 Oktober 2021.
Dalam perjalanan kontruksinya, Smelter PTFI menghadapi banyak tantangan mulai dari Covid 19, konflik Rusia-Ukraina yang membuat sejumlah harga kebutuhan proyek melambung hingga minimnya tenaga kerja lokal sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.
Meski demikian, Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas mengatakan, keputusan untuk membangun Smelter di kota Gresik merupakan keputusan yang sangat tepat. Langkah ini seiring dengan tumbuhnya permintaan tembaga dunia dan mulai banyaknya negara yang menerapkan ekosistem EV.
"Keputusan menempatkan Smelter di Gresik sudah tepat karena infrastrukturnya lengkap dan aksesnya mudah," kata Tony.
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani menyampaikan hadirnya smelter PTFI di kota santri akan membuat daerah yang dia pimpin menjadi kota paling maju di Jawa Timur. Dia optimis PTFI mampu memberikan multiplier effect yang sangat besar bagi daerah khususnya masyarakat lokal.
"Hadirnya PT Freeport Indonesia di kota Santri ini menempatkan Gresik menjadi kota dengan capaian investasi tertinggi di Indonesia hingga kami berhasil mendapatkan penghargaan dari BKPM," kata Bupati Yani.
Benar saja, apa yang disampaikan orang nomor satu di Gresik itu bukan isapan jempol. Dalam memulai proyek kontruksinya, secara kumulatif PTFI menyerap lebih dari 40 ribu tenaga kerja. Hal ini berdampak luas aktivitas perekonomian masyarakat, mulai dari kebutuhan hunian pekerja, bisnis makanan dan alat tulis kantor (ATK), hingga jasa yang lain. Yang tidak kalah penting, hadirnya PT Freeport Indonesia di Gresik juga mampu menghidupkan kembali Badan Usaha Milik Desa yang selama ini mati suri.
Photo
Perjalanan Konsentrat dari Pegunungan Papua hingga Gresik
Radar Gresik mendapatkan kesempatan mengunjungi komplek pertambangan PT Freeport Indonesia (PTFI) yang ada di Kabupaten Mimika, Papua Tengah pada Oktober 2023 lalu. Dalam kesempatan itu, rombongan diajak melihat lebih dekat tiga tambang PTFI yang terdapat di bumi Cenderawasih.
Diantaranya area tambang terbuka (open pit minening) Erstberg dan Grasberg yang saat ini sudah tidak beroperasi, serta tambang bawah tanah (Underground Mine) Deep Mill Level Zone (DMLZ). PTFI saat ini hanya mengoperasikan tambang bawah tanah, yaitu tambang DMLZ, Grasberg Block Cave (GBC) dan Big Gossan.
Superintendent Project Leader, Safety Operations, Egi Alfa Oktavian menceritakan, konsentrat tembaga yang dikirim ke Gresik bukanlah bongkahan emas seperti yang dipikirkan sebagian orang selama ini. Konsentrat tembaga merupakan butiran mirip pasir halus yang berwarna hitam yang mengandung tembaga, emas dan perak.
"Jadi untuk mendapatkan bijih atau ore ini kami harus memecahkan batu di dalam perut bumi. Hasilnya nanti seperti pasir hitam yang kita olah hingga menjadi konsentrat tembaga," kata dia.
Menariknya, seluruh proses penambangan di dalam perut bumi ini dikendalikan secara otomatis oleh operator melalui teknologi mutakhir. Egi menuturkan, operator tidak perlu masuk ke dalam tambang untuk mengoprasikan mesin crusher, loader maupun kereta. Mereka cukup mengoperasikannya dari kantor operasi yang ada di permukaan.
Canggih : PT Freeport Indonesia menggunakan teknologi kendali jarak jauh untuk mengoperasikan mesin cruisher, loader dan kereta pengangkut bijih.
Penambangan bawah tanah ini yang dominan dilakukan dengan cara block caving yaitu dengan pemotongan- pemotongan dari bawah kemudian bijih tersebut runtuh akibat berat dan gravitasi. Runtuhan ini kemudian ditarik dan diangkut menuju alat penghancur dan kereta.
"Kami memiliki alat crusher masing-masing berkapasitas 2.500 ton hingga 3.000 ton per jam dari jarak jauh dengan melihat monitor yang tersedia. Jadi semua alat berat untuk menghancurkan bijih hingga kereta bawah tanah yang mengangkut hasil tambang semua kami operasikan dari jarak jauh," imbuhnya.
Setelah diangkut kereta listrik dari dalam perut bumi, bijih atau ore selanjutnya dibawah ke area portsite pelabuhan Amamapare menggunakan pipa sejauh 110 kilometer. Lagi-lagi PTFI menggunakan teknologi efisien dalam proses pendistribusian ini yakni memanfaatkan grafitasi bumi untuk mengantarkan konsentrat tembaga yang masih dalam bentuk lumpur sampai ke area pelabuhan yang memiliki elevasi lebih rendah dari area tambang utama.
"Kami memanfaatkan grafitasi agar bijih ini sampai ke pelabuhan yang jaraknya 110 kilometer. Di dalam pipa juga kami alurkan air agar proses pengiriman semakin mudah,"tuturnya.
Sesampainya di Portsite, konsentrat ini dikeringkan sehingga terciptalah hasil akhir tambang PTFI berupa konsentrat tembaga untuk kemudian dikapalkan ke menuju Smelter di Kabupaten Gresik.
"Konsentrat yang akan kami kirim ke pabrik peleburan dan pemurnian atau smelter ini bertekstur mirip semen halus yang berwarna abu-abu tua," tandasnya.
Produksi : Mesin anode slime PT Freeport Indonesia berfungsi dengan baik.
Dalam pembangunan Smelter KEK Gresik dilengkapi Unit Pemurnian Logam Mulia, Unit Oksigen, Unit Asam Sulfat dan Unit Desalinasi serta Unit Effluent and Waste Water Treatment Plant untuk mendukung pemanfaatan maksimal bahan baku, produk samping maupun limbah agar dapat mencapai high efficiency smelting and refining process.
PT Freeport Indonesia menggunakan teknologi Metso Outotec Double Flash dan Electrorefinering sehingga dapat menghasilkan katoda tembaga 99.99 persen yang menjadi salah satu bahan baku utama kendaraan listrik.
Produk katoda tembaga yang dihasilkan bisa mencapai 600.000 ton per tahun, serta menghasilkan 50 ton emas per tahun, dan 150-200 ton perak. Adapun produk sampingan lainnya yaitu asam sulfat sebanyak 1,5 juta ton per tahun, terak tembaga sebanyak 1,3 juta ton per tahun, dan gipsum sebanyak 150 ribu ton per tahun. Sementara produk sampingan lainnya yaitu asam sulfat sebanyak 1,5 juta ton per tahun, terak tembaga sebanyak 1,3 juta ton per tahun dan gipsum sebanyak 150 ribu ton per tahun.