Manyar- PT Freeport Indonesia memastikan jika fasilitas pengolahan tembaga atau Smelter yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik sudah siap beroprasi pada awal bulan Juni. Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas disela-sela kunjungannya meninjau kesiapan operasional Smelter Gresik, Sabtu (25/05) kemarin.
Dalam kesempatan tersebut, Tony Wenas mengunjungi area sembilan inti dari pabrik Smelter PTFI Gresik. Diantaranya area pelabuhan (Jetty) Smelter, area Smelter Furnace (pembakaran), area Refinery hingga pencetakan tembaga atau Anode Slime. Dari kunjungannya ke sembilan bagian inti pabrik itu Tony Wenas mengaku puas karena seluruh bagian telah berfungsi dengan baik.
Pelabuhan sudah siap 100 persen, kapal sudah bisa bersandar, Furnace sudah hidup, conveyor belt yang akan membawa konsentrat dari pelabuhan juga sudah berjalan optimal. Fasilitas listrik, oksigen dan Desalinasi udara juga sudah berfungsi. Jika diistilahkan Smelter Gresik dalam kondisi Engine On atau mesin menyala dan siap beroprasi,” tegas Tony Wenas.
Baca Juga: Target Bulan Ini Selesai, Smelter Freeport Gresik Bakal Olah Berbagai Janis Konsentrat Tembaga
Dia menuturkan, dalam dua minggu terakhir ini berhenti akan berusaha secara maksimal untuk menyelesaikan proyek pembangunan secara subtansial. Barulah setelah penyelesaian tersebut akan mulai dilakukan tahapan produksi. Menurut Tony, tantangan dalam membangun proyek Smelter Single Line terbesar di dunia tidaklah mudah. Ada banyak kontraktor dan sub kontraktor yang terlibat dalam pembangunan sehingga diperlukan kemampuan pengelolaan proyek manajemen yang handal.
"Kita ini sekarang bekerja siang malam. Kami memastikan awal Juni proyek ini secara subtansial sudah selesai dan siap beroprasi. Nantinya baru mulai masuk tahapan feeding konsentrat pada bulan Juli dan agustus produk katoda tembaga sudah jadi," tuturnya.
Harga Emas dan Tembaga Naik, Tambahan Penerimaan Negara Bisa Dua Kali Lipat
Tony berharap dengan selesainya proyek Smelter Gresik secara subtansial, Pemerintah Indonesia bisa memberikan perpanjangan izin ekspor pada bulan Juni. Sebab, PTFI sudah memiliki kalkulasi jika izin ekspor sudah dikantongi pada bulan depan maka akan ada tambahan penerimaan negara sebesar Rp 45 triliun.
Tentu saja pernyataan Tony bukan tanpa alasan, dia mengaku jika saat ini harga emas dan tembaga sedang mengalami aktivitas yang cukup tinggi. Nah, peluang inilah yang harus dimanfaatkan untuk menggenjot penerimaan negara.
“Sampai bulan ini kami sudah memberikan devisa kepada negara sekitar Rp 40 Triliun sampai Rp 45 triliun. Jika nanti izin ekspor bisa turun maka sampai bulan Desember akan ada tambahan penerimaan negara Rp 45 triliun atau meningkat hingga dua kali lipat,” imbuhnya.
Sementara itu berdasarkan data hingga bulan Mei angka investasi yang telah dikeluarkan PTFI untuk membangun Smelter Gresik lebih dari Rp 60 triliun. Angka ini lebih tinggi dari perencanaan awal sekitar Rp 48 triliun.
Editor : Cak Fir