RADAR GRESIK- Bentrokan mewarnai aksi demonstrasi yang dilakukan oleh ratusan buruh PT New Era Ruberindo di Jalan Mayjend Sungkono, Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik, Rabu (06/12) sore. Kericuhan terjadi saat dua truk yang mengangkut peratalan berupa mesin produksi milik perusahaan memaksa keluar dari halaman pabrik.
Ratusan buruh yang sejak awal sudah berjaga di depan pintu masuk menghalau atau mencegah tiga truk itu agar masuk kembali. Akibatnya, aksi saling dorong antara sejumlah petugas perusahaan dengan buruh tak terelakkan.
Salah satu pendemo, Cibi, 37, mengatakan, perusahaan wajib mematuhi keputusan pengadilan yang telah memutus pailit beberapa waktu lalu. Untuk itu, seluruh aset milik perusahaan saat ini dalam perhitungan oleh kurator sehingga tidak boleh ada yang dibawa keluar perusahaan.
"Kami menuntut agar seluruh barang yang ada di dalam untuk tidak diotak-atik. Kami rela menunggu disini sejak tahun 2021 meskipun sering mendapatkan ancaman dan intimidasi," tegas Cibi.
Dia menuturkan, dalam aksi saling dorong antara buruh dan orang suruhan perusahaan dirinya sempat terjatuh dan nyaris terinjak. Beruntung berkat kesigapan buruh lain dirinya bisa diselamatkan. Cibi hanya berharap pemerintah daerah bisa hadir dan membantu para buruh yang didominasi perempuan.
"Tadi ibu-ibu sudah histeris ketakutan karena mau truk tetap menerobos keluar pabrik. Bahkan, ada beberapa motor buruh yang dilindas hingga rusak," imbuh Cibi.
Di tempat yang sama, Ketua Pimpinan Unit Kerja (PUK) Front Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan (FSP KEP) Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), PT New Era Ruberindo, Ahmad Agus Majidi mengecam tindakan arogan dari perusahaan yang memaksa mengeluarkan mesin dengan bantuan sejumlah preman.
"Kami bergerak cepat dengan melaporkan tindakan kesewenang-wenangan ini ke polisi," kata Agus.
Dia meminta kepada pihak perusahaan untuk kooperatif dengan mengikuti putusan pengadilan yang tidak mengizinkan ada satupun barang dikeluarkan sembari menunggu hasil perhitungan dari kurator.
Sebab, selama ini pihaknya mengetahui jika terdapat aktivitas pembongkaran mesin dan sejumlah peralatan dari dalam perusahaan sehingga hal ini berpotensi merugikan buruh.
"Minggu lalu kami mendirikan tenda dibongkar paksa oknum. Hari ini kami dirikan tenda tersebut sebagai bentuk perjuangan," pungkasnya. (fir/han)
Editor : Hany Akasah